Media Informasi Terkini

Panduan lengkap Ibadah Shalat Jum’at, Agar Ibadah Menjadi Barakah

Panduan lengkap Ibadah Shalat Jum’at, Agar Ibadah Lebih Mudah
SHALAT  JUM'AT

Syarat Sahnya Shalat Jum’at


Di laksanakan di darul iqamah (wilayah yang di jadikan tempat menetap selamanya).

Orang islam dapat mengesahkan shalat jum’at, jika ia berada di wilayah tempat tinggalnya (bermukim), bukan orang yang menempati wilayah yang ia tempati, namun, ada keinginan untuk berpindah tempat, meskipun waktu diamkan sebentar atau lama.

Seperti halnya seorang santri yang bertempat tinggal di sebuah pesantren,  ia suatu saat akan kembali ke tempat asalnya, maka santri dan orang-orang yang berpindah-pindah tempat tidak mengesahkan shalat jum’at.

Jika jamaah jum’at yang memang menetap berjumlah 30 orang, lalu di tambah santri 10, atau orang yang berpindah-pindah tempat meskipun mencukupi 40 orang, tetap tidak mengesahkan shalat jum’atnya, lalu bagaimana menyikapi hal demikian, maka cukup menyempurnakan dengan shalat dluhur, setelah salam.


Di Kerjakan Pada Waktu Dluhur

Syarat yang mengesahkan shalat jum’at yakni di laksanakan di dalam waktu shalat dluhur, yaitu mulai waktu tergelincirnya matahari sampai bayangan setuatu benda sama dengan bendanya.

Semisal waktu shalat dluhur pukul 12:00 sampai pukul 15:00, maka shalat jum’at juga di kerjakan di dalam waktu shalat dluhur tersebut.

Lalu bagaimana jika tidak mencukupi untuk melakukan ibadah jumat, semisal untuk shalat jum’at butuh waktu 5 menit,  untuk melakukan  khutbah jum’at membutuhkan waktu 15 menit, jadi semua ibadah jum’at yang sempurna butuh waktu 20menit, sedangkan  waktu yang tersisa untuk melakukan  ibadah jum’at tinggal 7 menit,  maka shalat jum’atnya hilang, solusinya harus mengganti dengan shalat dluhur.

Di Laksanakan Dengan Berjamaah Minimal 40 Orang Dari Ahli Jum’at

Syarat sahnya shalat jum’at yakni jamaah shalat jum’at 40 orang, 40 orng ini memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:  harus laki-laki, merdeka, mukallaf dan orang yang bertempat tinggal.

Syarat ini harus ada, mulai di bacakan khutbah jumat sampai selesai shalat jum’at, lalu, bagaimana jika tidak mencukupi syarat, semisal 30 atau 20 orang yang melaksanakan shalat jumat, maka setelah salam. menyempurnakan dengan shalat dluhur.

Di Dahului Dua Khutbah


Syarat selanjutnya dua khutbah harus di dahulukan dari shalatnya, berbeda dengan shalat idul fitri dan idul adha, melaksanakan shalatnya dulu lalu di sempurnakan dengan khutbah.

Lalu apa alasannya khutbah jum’at di dahulukan dari shalatnya?

Keterangan ini bersumber dari hadits dan kesepakatan ulama’, hadits yang diriwayatkan Imam BukhariDan Imam Muslim dari Ibnu Umar RA, “Bahwa Rasulullah SAW berkhutbah pada hari Jumat dengan dua khutbah dan duduk di antara keduanya.’ Dilakukannya kedua khutbah ini sebelum shalat Jumat.  Kitab Mughnil Muhtaj,  juz I, halaman 285


Syarat-Syarat Wajib Jum’at


Islam 

Orang islam mengawali syarat-syarat wajib jum’at, orang kafir harbi (orang yang selalu membenci bahkan membunuh orang islam), kafir dzimmi (kafir yang masih mematuhi aturan-aturan orang islam, seperti membayar pajak, tidak mengganggui),

Lalu bagaimana jika ada orang islam meninggalkan shalat jum’at 3 kali berturut-turut?

Barang Siapa  yang meninggalkan shalat jum’at  tiga berturut-turut tanpa udzur, maka ia akan dicatat sebagai orang.

Munafik disini  yang dimaksud adalah munafik dalam bentuk perbuatan, bukan munafik dalam keyakinan.

Dalam Kitab Fathul Qadir menyebutkan, sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa shalat Jumat  itu adalah kewajiban, bahkan lebih wajib daripada sembahyang Dluhur. Mereka juga menyatakan orang yang mengingkari kewajibannya menjadi kafir, yang di maksud Shalat Jum’at .Faidhul Qadir, juz 6, halaman 33.

Baligh

Baligh meruapakan pengalihan dari masa kekanak-kanan ke jenjang kedewasaan, dari sini kedewasaan itu muncul sebagai syarat yang mewajibkan utnuk melakukan ibadah, contohnya ibadah jum’at, dan shalat-shalat yang lain.

Karena  Syarat wajib shalat jum’at itu harus baligh, jika masih tergolong anak kecil yang belum baligh, maka belum di kenai kewajiban untuk melakukan shalat jum’at

Anak kecil yang  belum baligh di anjurkan di bawah ke masjis, baik untuk melakukan shalat jum’at atau terawih, tujuan ini untuk pembelajaran.

Lalu bagaimana jika anak kecil belum baligh merusak ketenangan  di dalam masjid.

Hukum sunnah membawa anak kecil ini berlaku bagi anak yang sudah memayyis, dalam artian sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang membayakan dan mana yang tidak membahayakan untuk dirinya.

Kalau anak yang belum mumayyis dan di yakini anak tersebut akan merusak ketenangan di dalam masjid, maka hukumnya makruh.

Berakal sehat

Syarat yang mewajibkan shalat jum’at yang ketiga yakni akalnya sehat, dalam artian tidak gila, baik gilanya itu terus-menerus atau gilanya hanya sebentar.

Lalu bagaimana kalau ada orang gila ketika khutbah di baca, lalu sembuh saat mau shalat jum’at, bagaimana hukumnya, maka tetap orang tersebut tidak dapat mengesahkan shalat jumat sebab syarat-syaratnya tidak terpenuhi.

Dalam satu sisi ia memenuhi syarat, tapi, di sisi yang lain ia tidak terpenuhi syarat-syaratnya.

Laki-laki

Syarat yang mewajibkan shalat jumat yakni laki-laki merdeka, perempaun tidak ada kewajiban utnuk melakukan shalat jum’at hanya saja sunnah, dengan syarat tidak timbul fitnah dan atas izin dari suami,  kalau timbul fitnah atau tidak di izinkan sama suami maka bisa makruh bahkan bisa ke taraf haram.

Kenapa wanita tidak wajib melakukan shalat jumat di masjid

Rasulullah Saw bersabda, “Shalat jumat di wajibkan bagi laki-laki yang merdeka dan berakal, bukan untuk para wanita, budak.”

Dari hadits ini bisa di ambil kesimpulan bahwa wanita tidak di wajibkan untuk shalat jum’at, Namun,  di sunnahkan, kalau wanita sudah melakukan shalat jum’at di masjid, maka baginya tidak harus melakukan shalat dluhur.

Sehat Jasmani

Syarat yang mewajibkan shalat jum’at yakni sehat badan dan akalnya, jadi orang yang sakit tidak di wajibkan untuk melakukan shalat jum’at, begitu juga tidak wajib melakukan shalat jum’at bagi orang buta yang tidak ada yang menuntunnya, serta tidak hafal jalan menuju masjid, sakit diera yang khawatir mengotori masjid, karena semua ini termasuk udzur yang di benarkan oleh Syara’

Bertempat Tinggal

Bertempat tinggal yang tidak ada niatan untuk berpindah-pindah merupakan salah satu syarat di wajibkannya shalat jum’at.

Kalau seseorang berdomisili di suatu daerah atau perkotaan, Tapi, ada niatan untuk berpindah ketempat asalnya atau tempat yang lain, maka baginya tidak ada kewajiban untuk melakukan shalat sunnah, namun, di sunnahkan, meskipun tidak memenuhi syarat.

Seperti kaum Namodem yang selalu berpindah-pindah tempat sesuai musim yang ia kehendaki, semisal di indonesia musim kemarau, lalu kaum ini pindah kenegara Indonesia, ketika di malaysia musim  kemarau kaum ini berpindah lagi ke Malaysia, begitu setersunya kaum Nomadem, maka kaum Nomadem tidak ada kewajiban melakukan shalat jum’at.


Sunnah-Sunnah Shalat Jum’at


Mandi sebelum di laksanakan shalat jum’at

Mandi sebelum berangkat shalat jum’at merupakan salah satu kesunnahan yang harus di laksanakan, setelah mndi di anjurkan untuk Berhias dengan pakaian yang paling bagus dan di anjurkan memakai pakaian yang berwarna putih lalu Memakai parfum.

Memotong kuku, baca selengkapnya Tentang memotong kuku yang sesuai syariat

Menggunting kumis

Menyisir rambut

Bersegera berangkat dengan berjalan kaki

Membaca al-qur’an atau dzkir sebelum khutbah di baca dan bacaan yang paling baik yakni surat al-kahfi

Perbanyak do’a dan shalawat pada nabi muhammad Saw


Hal-Hal Yang Tidak Di Wajibkan Shalat Berjamaah


Kafir 

Orang kafir ialah seseorang yang tidak beriman kepada Allah Swt, Kepada malaikat Rasul dan kitab-Kitab Allah Swt dan hari ahir.

 Orang kafir harbi (orang yang selalu membenci bahkan membunuh orang islam), kafir dzimmi (kafir yang masih mematuhi aturan-aturan orang islam, seperti membayar pajak, tidak mengganggui).

Maka orang kafir tidak di wajibkan untuk melakukan shalat jum’at dan kelak akan menerima balasan yang sangat pedih atas kekafirannya.

Anak-anak yang belum baligh

Karena  Syarat wajib shalat jum’at itu harus baligh, jika masih tergolong anak kecil yang belum baligh, maka belum di kenai kewajiban untuk melakukan shalat jum’at

Anak kecil yang  belum baligh di anjurkan di bawah ke masjis, baik untuk melakukan shalat jum’at atau terawih, tujuan ini untuk pembelajaran.

Lalu bagaimana jika anak kecil belum baligh merusak ketenangan  di dalam masjid.

Hukum sunnah membawa anak kecil ini berlaku bagi anak yang sudah memayyis, dalam artian sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang membayakan dan mana yang tidak membahayakan untuk dirinya.

Gila 
Budak
Perempuan
Sakit

Musafir

Orang yang melakukan perjalanan jauh boleh tidak melakukan shalat jumat jika memenuhi beberapa syarat yang pertama perjalanannya harus di mulai sebelum fajar, perjalananya di anggap boleh oleh kacamata syariat seperti, bersilaturrahmi dengan kerabat atau sahabat, berdagang yang di perbolehan.
Sedangkan musyafir yang tidak memenuhi syarat yakni perjalanannya untuk berjudi, merampas, korupsi, pacaran. Maka semua ini tidak mendapatkan kemurahan untuk tidak melakukan shalat jum’at.

Panduan lengkap Ibadah Shalat Jum’at, Agar Ibadah Lebih Mudah
KHUTBAH  JUM'AT

Syarat-Syarat Khutbah Jum’at


Di laksanakan pada saat tergelincirnya matahari sampai keluarnya waktu shalat dluhur

Berdiri jika mampu, kalau tidak mempu berdiri di anjurkan untuk duduk, kalau duduk tidak mampu maka baginya boleh khutbah dengan posisi tidur miring, Namun, itu semua jika tidak ada khotib yang mempu menggantikan dirinya.

Kalau semisal ada pengganti untuk membaaca khutbah sebaiknya di gantikan saja.

Yang membaca khutbah duduk di antara dua khutbah

Mengeraskan bacaan khutbah, sampai bisa di dengar oleh 40 orang ahli jum’at

Berturut-turut baik rukun, jarak kedua khutbah, maupun antara kedua khutbah dengan shalat

Khotib suci dari hadats dan najis

Khotib menutup aurat


Rukun-Rukun  Khutbah Jum’at


Memuji kepada Allah Swt

Rukun ialah sesuatu yang harus ada di dalam perkara, semisal dalam shlat yakni membaca al-fatihah, membaca shalawat, tasyahud, kalau dalam rukun tidak ada perkara maka batal perkara tersebut.

Sedangkan syarat ialah sesuatu yang harus ada sebelum melakukan perkara semisal mau shalat sebelumnya yang harus ada ialah wudlu atau mandi jika sedang junub.

Jadi rukun khutbah yang pertama yang harus ada ialah memuji Allah Swt dengan lafadz “Alhamdulillah” lafad ini sudah di tentukan dan tidak di perbolehkan untuk merubahnya semisal mau mengubah, “Sukrullah” Subhanallah.

Membaca Shalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw menempati rukun khutbah yang ke dua, shalawat kepada nabi Muhammad saw lafadznya sudah tertntu tidak boleh di rubah dengan lafadz lain.

Memberikan Wasiat berupa Taqwa

Memberikan wasiat atau nasihat bentuknya bermacam-macam boleh untuk menggunakan kata wasiat atau nasihat yang lain, kalau yang umum biasanya, wasiat agar mengerjakan apa yang sudah di perintahkan oleh Allah Swt. Dan menjauhi larangannya.

Baca Juga: Panduan lengkap tentang istinja' sesuai syariat

Membaca Sebagian Ayat Al-Qur’an

Rukun khutbah yang selanjutnya yakni membaca sebagian ayat al-qur’an, baik di baca ketika khutbah pertama atau khutbah yang ke dua

Berdoa Untuk Seluruh Umat Manusia

Rukun yang terahir berdoa untuk umat islam laki dan islam perempuan di khutbah yang kedua.

Di syaratkan semua rukun khutbah ini di perdengarkan kepada 40 jamaah yang mengesahkan shalat jum’at semisal, laki-laki, baligh, berakal, sehat dan bertempat tinggal. Juga di syaratkan antara khutbah pertama dan khutbah kedua tidak di pisah dengan kalimat lain atau dengan waktu yang lama meskipun ada udzur, kalau ini terjadi, makabatal khutbahnya.

Bagaimana kalau khutbahnya batal, apa yang harus di lakukan selanjutnya? Kalau khutbhanya batal maka harus mengulangi khutbhanya mulai dari awal

Sunnah-Sunnah Khutba  h Jum’at


Di lakukan di atas mimbar (di tempat yang tinggi)

Di ucapkan dengan kalimat yang fasih terang jelas dan mudah untuk di fahami juga tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek

Khotib menghadap ke arah jamaah shalat jum’at

Membaca suarat al-ikhlas di waktu duduk di antara dua khutbah

Menertibkan tiga rukun, di mulai dari pujian, shalawat kemudian memberi nasihat kepada para jamaah shalat jum’at

Mendengarkan isi khutbah serta memperhatikannya

Khotib memberi salam baik kepada jamaah shalat jum’at, atau kepada bilal saat mau menaikhi mimbar.

Khotib duduk di atas mimbar sesudah mengucap salam

Semoga artikel ini bermanfaat untuk semua kaum muslimin. 



Tag : Islam
0 Komentar untuk "Panduan lengkap Ibadah Shalat Jum’at, Agar Ibadah Menjadi Barakah"

Back To Top