Media Informasi Terkini

Tuntunan Ta’aruf Sesuai Syariat Islam, Membangun Rumah Tangga Islami

Tuntunan Ta’aruf  Sesuai Syariat Islam, Untuk Membangun Rumah Tangga Islami
Ta'aruf Islami

pengertian Ta’ruf yaitu mengenalkan diri kepada orang yang kita senangi dan juga ingin mengenal lebih dekat pasangan yang kita sayangi untuk melangsungkan ke jenjang yang lebih serius,bukan untuk bermain-main saja.

Terkadang orang menganggap ta’aruf itu tidak jauh berbeda dengan pacaran, ini anggapan yang harus di benarkan, mengapa demikian, karena yang namanya ta’auf itu ingin mencari jodoh dan untuk di nikahi.

Sedangkan pacaran itu terkadang hanya untuk hiburan saja, bukan untuk di nikahi, tapi, ada juga yang pacaran sampai menikah. Yang lebih anehpacaran karena mengikuti tren masa kini, pacaran karena malu di anggap jomlo, ini yang salah besar, bukan anggapan orang yang kita salahkan , tapi, cara pacarannya yang harus kita benahi.

Lalu bagaimana ta’aruf yang sesuai dengan syariat islam, agar tidak terjerusmus ke dalam perkara yang di larang oleh agama.

Mengajak Mahram 


Ketika seorang laki-laki berta’ruf dengan seorang wanita yang ia cintai, maka jangan berkhalwat tanpa di sertai oleh mahram, baik mahram dari perempuannya atau mahram dari pihak laki-laki.

Mahram yang di ajak untuk bertemu dengan perempuan yang kita sayangi harus benar-benar menjaga adab, melarang perkara yang di larang syariat seperti, foto selfie berduaan, duduk berdampingan, perkataan yang tidak patut.

Paling baiknya mahram ketika berkunjung kerumah wanita yang kita cintai yakni usianya lebih matang dari pada kita dan menjaga adab. Seperti kakak laki-laki atau kakak perempuan, paman, adik.
Kalau memang tidak memungkinkan untuk berkunjung kerumah wanita yang di senangi atau menjaga adab, maka solusinya.



Perantara Mahram


Perantara mahram laki-laki untuk lebih mengenal wanita yang kita senangi ini jauh lebih menjaga terhadap kesucian syariat islam, ini banyak di lakukan oleh para Masyaikh pondok pesantren

Semisal SiA sudah cukup umur untuk menikah, lalu ada keluarga si B memiliki saudara untuk di nikahkan kepada siA, biasanya penyambung antara keluarga siA dengan si B untuk menjalin hubungan yang lebih serius.

Sedangkan kesalahan yang terjadi di tengah masyarakat ketika sudah berta’aruf atau sudah bertunangan, ini seakan-akan ada signal di perbolehkan melakukan suatu hal seperti, berduaan tanpa di sertai mahram. Berboncengan, terkadang ada yang mnginap di rumah wanitanya, dengan alasan sudah bertunangan. Ini kesalahn yang perlu di luruskan.

Bagaimana kalau dalam masa ta’aruf mengirim sms, telfonan, video Call.


Berta’aruf itu banyak macamnya, namun harus tetap mematuhi rambu-rambu syariat islam, kalau tata cara berta’aruf itu berpotensi menimbulkan perzinahan, maka sudah jelas haram, kalau tidak, maka boleh-boleh saja, tapi, lebih baik hindari , singkatnya seperti itu.

Sms, telfonan, video Call dengan wanita yang kita senangi boleh-boleh saja, dengan tujuan untuk mempererat hubungan, kalau tujuannya untuk bermesraan atau mengarah kepada perzinahan, maka haram secara mutlak.

Ingat ta’aruf  disini masih tahap pengenalan dari masing-masing pasangan, belum mengarah para pertunangan, lalu bagaimana cara bertunangan yang tidak keluar dari ajaran syariat islam.
Ketika seorang sudah lama berta’aruf dengan seorang wanita, maka lakukan hal ini agar pertunangan itu menjadi barakah.

Putus Komunikasi


Jangan salah tanggap dulu, disini putus komunikasi bukan putus hubungan, tapi selama masa-masa khitbah atau pertunangan sementara waktu komunikasi dengan tunangan di putus, kenapa, sebab pada masa-masa ini rawan sekali terjadi perzinahan atau yang mengarah untuk melakukan perzinahan dan juga menutup lubang fitnah.

Kalau memang ada hal-hal yang perlu di bicarakan dengan pihak wanita, baik menyangkut hubungan atau keluarga maka tidak mengapa, selalu tidak keluar dari rambu-rambu kesucian ta’aruf, toh wanita ini nantinya juga milik kita.

Bermesraan dengan wanita yang kita sayangi, jauh lebih indah setelah akad


Pertunangan Yang Barakah Menutup Pintu Fitnah


Ingat pertunangan belum 100% milik kita, pertunangan itu hanya alat pengikat kalau kita benar-benar mau menikahinya, bukan berarti dengan pertunangan kita bisa berbuat semena-mena tanpa jalan yang benar, seperti jalan berduaan, belibur berduaan, duduk berdampingan.

Permasalah seperti ini harus di luruskan agar tidak menjadi tradisi yang menyimpang dari sunnah rasul, sering terjadi pula, ketika mau lebaran biasanya di desa-desa melakukan tradisi ater-ater makanan ke sanak keluarga, lalu kerena ingin berniat baik, keluarga mengizinkan pasangan yang sedang bertunangan ini bergoncengan dalam rangka ater-ater makanan, ini jelas kliru yang harus di luruskan.

Nah, Kalau kedua belah pihak sudah cocok dalam segala hal, maka tidak ada salahnya untuk melangsungkan akad pernikahan, sebelum terjadinya akad nikah maka lakukan hal berikut ini.

Duduk bersebelahan dalam prosesi akad


Tuntunan Ta’aruf  Sesuai Syariat Islam, Untuk Membangun Rumah Tangga Islami
Akad Nikah



Tradisi di masing daerah berbeda-beda, namun, tradisi seperti apapun bentuknya jangan sampai keluar dari kontek syariat islam.

Ini yang sering terjadi dalam prosesi akad nika, baik yang di lakuakn di kantor KUA atau di rumah mempelai perempuan, calon pengantin duduk berdua di hadapan Wali atau yang mewakili, padahal ini belum akad nikah. Ini kurang patut untuk di lakukan.

Lalu Yang benar bagaimana?

Tradisi yang di lakukan oleh kalangan para kyai, para alumni pesantren, sebelum terjadinya akad nikah, mempelai perempuan tidak di perkenankan untuk melihat atau mendampingi calon mempelai laki-laki.

Biasanya calon mempelai perempuan berada di dalam kamar yang di temani oleh kerabatnya atau calon istri  menunggu calon suaminya di panggung pelaminan. Sedangkan suaminya melangsungkan ijab qobul.

Temu calon pengantin sebelum akad


Tuntunan Ta’aruf  Sesuai Syariat Islam, Untuk Membangun Rumah Tangga Islami



Tradisi selanjutnya yang kurang benar saat pengantin pria datang ke calon pengatin perempuan, biasanya pengantin perempuan menunggu di pintu masuk walimatul Ursy, lalu terjadi tradisi basuh kaki calon suaminya, lalu bersuap-suapan dan juga minum air.

Ini merupakan salah satu tradisi yang kurang patut di lakukan, sebab, suami belum melakukan akad, tapi, kalau sudah melakukan akad nikah, sah-sah saja bahkan lebih dari itu boleh.

Etika Saat Prosesi Akad Nikah, Agar Rumah Tangga Sakinah Dan Mawaddah

Semoga artikel ini bermanfaat untuk semuanya
























Tag : Inspirasi
0 Komentar untuk "Tuntunan Ta’aruf Sesuai Syariat Islam, Membangun Rumah Tangga Islami"

Back To Top