Media Informasi Terkini

Panduan Lengkap, Praktis Tentang Shalat Jamaah

Panduan Lengkap, Praktis  Tentang Shalat Jamaah
Shalat jamaah

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat berjamaah, ada yang mengatakan sunnah mu’akkad, menurut Imam Nawawi fardlu kifayah, menurut Imam Ahmad Bin Hambal fadlu ‘ain dan ada lagi yang mengatakan sebagai syarat-syarat shalat.


Makmum niat mengikuti imam


Salah satu syarat yang mengesahkan shalat jamaah ialah Makmum harus niat menjadi makmum, sedangkan Imam tidak harus niat menjadi imam. Sebab, kalau makmum tidak niat menjadi makmum maka shalatnya batal, sedangkan imam yang tidak berniat jadi imam tetap sah, cuman tidak mendapatkan fadilah shalat jamaah melainkan shalat sendirian.

Lalu bagaimana jika ada orang  berniat menjadi imam sedangkan ia shalat sendirian, ia beranggapan nanti di tengah-tengah shalatnya ada orang yang bermakmum kepada dirinya.

Maka shalatnya tetap sah, meskipun nantinya tidak ada yang bermakmum kepadanya. Kalau ada yang bermakmum kepadanya mau ia mendapatkan fadilahnya shalat berjamaah.

Kalau tidak ada yang bermakmum maka ia tidak mendapatkan fadlilahnya berjamaah, meskipun ia berniat menjadi imam.

Makmum mengikuti imam dalam segala pekerjaan


Syarat yang kedua makmum harus mengikuti imam dalam segala hal seperti gerakan dalam shalat, kalau imam ruku’ maka makmum harus ruku’, begitu juga seterusnya, jika makmum tertinggal 3 rukun maka shalat batal.

Mengetahui gerakan imam

Panduan Lengkap, Praktis  Tentang Shalat Jamaah
Melihat Imam Melalui Proyektor

Syarat yang mengesahkan shalat jamaah yang ketiga makmum harus mengetahui gerakan imam baik melihat secara langsung, melihat makmum yang ada di depannya atau mendengar dari pengeras suaranya imam. 

Bagaimana kalau makmum melihat imam melalui proyektor. Baca selengkapnya  Hukum makmum melihat gerakan imam melalui televisi 

Jarak antara imam dan makmum tidak boleh lebih dari 300 dziro’, ini kalau tidak berada di masjid


Ulama banyak terjadi khilaf dalam menentukan berapa dziro’ yang di maksudkan disini, jika penghitungannya menggunakan ukuran Indonesia penentuan satu dziro’ ke centimeter, maka Panjang 300 dziro’ bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, menurut mayoritas ulama 1

Pendapat ini di ambil dari penghitungan kitab FATHUL QODIR halalaman 3 

NO Panjang 300 dziro’

1 125,1 M.
2 134,1 M.
3 134,4 M.
4 132 M.
5 144 M.
6 ا174 M.
7 195 M.
8 227,4 M.

Tempat berdirinya makmum tidak boleh melebihi imam


Syarat yang dapat mengesahkan jamaah shalat yakni posisi makmum tidak boleh melebihi posisi imam, batasannya adalah tumitnya imam, kalau melebihi sedikit saja maka shalatnya makmum batal. 
Ini sering terjadi jika ada masjid yang bertingkat lalu imam berposisi di belakang mihrob bukan di mihrobnya, sedangkan makmum yang di atas tidak melihat posisi imam, yang di lihat hanya pembatas seperti tembok

Aturan imam dan makmum sama


Syarat yang selanjutnya makmum dan imam aturannya sama, semisal imam shalat ashar maka makmum juga shalat ashar, imam ruku’ makmum juga harus ruku. Imam membaca al-fatihah makmum juga membaca al-fatihah, ini yang di maksud sama aturannya.

Yang tidak di perbolehkan dan bukan aturannnya,  jika ada imam shalat jama qoshar atau shalat gerhana matahari atau bulan, sedangkan makmum ingin jamaah shalat ashar atau magrib, maka makmum tidak boleh mengikuti imam sebab beda aturan.

Dan juga gerakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan beda dengan gerakan shalat lima waktu yang wajib. Dan juga beda rakaatnya shalat jama’ qhasar dengan shalat yang tidak di qhasar, untuk itu tidak boleh mengikuti.

Kalau imam shalat sunnah boleh bagi makmum shalat berjamaah walapun makmum hendak shalat dluhur, ashar atau magrib. Karena shalatnya imam dengan makmum gerakan shalatnya sama.



Laki-laki tidak sah bermakmum kepada wanita


Laki-laki tidak di perbolehkan bermakmum kepada wanita,  tidak boleh bermakmum kepada anak kecil, dan juga tidak boleh bermakmum kepada orang yang memiliki kelamin dua yang sama-sama berfungsi (Khunsa Musykil). Begitu juga tidak di perbolehkan bermakmum kepada orang banci.

Kalau perempuan di perbolehkan menjadi imam bagi makmum perempuan, juga boleh menjadi imam bagi anak kecil, dan orang yang memiliki dua kelamin yang sama-sama berfungsi.

Imam tidak boleh Bermakmum Kepada Orang Yang Ummi 


Syarat yang mengesahkan shalat jamaah yakni imam harus ahli qori’ (fasih dalam melafadkan ayat-ayat al-qur’an), maka tidak boleh ahli qori bermakmum kepada orang yang tidak bisa membaca al-qur’an atau bisa membaca ayat al-qur’an tapi kurang fasih.

Lalu bagaimana untuk mengetahui imam itu seorang qori’ atau bukan, apalagi shalay yang di kerjakan shalat yang bacaannya di pelankan seperti dluhur dan ashar.

Kalau makmum tidak mengetahui apakah imam pandai membaca al-qur’an atau tidak, maka shalatnya makmum tetap sah.  Dan makmu tidak di perkenankan menyelidiki terlalu detail terkait bacaan imam, cukup dengan husnuzdon bahwa imam ini bacaannya bagus. 

Kalau imam memelankan bacaan ayat al-qur’an, padahal dalam shalat yang  harus di keraskan bacaanya, maka bagi makmum mengulang shalatnya ini pendapatnya imam Iraq dari nashnya Imam As-Syafi’i.

Seandainya ada imam pandai membaca al-qur’an, lalu  imam tersebut memelankan bacaannya, kerena lupa atau karena menganggap shalat yang di kerjakan itu di sunnahkan memelankan  bacaannya, maka bagi makmum tidak perlu mengulang shalatnya.


Makmum tidak boleh mengikuti imam yang di ketahui batal


Makmum yang melihat imamnya batal maka tidak boleh mengikuti imam, bagaimana solusinya jika melihat imam batal ketika shalat, maka harus memisahkan diri.

Baik batalnya imam itu karena ceroboh seperti bergerak lebih dari 3 kali, atau membawa najis yang tidak di dapat di maafkan.

Shalat Yang Afdlo Untuk  Berjamaah


Shalat jum’at
Shalat subuh selain hari jum’at
Shalat ashar
Shalat isya’
Shalat dluhur
Shalat magrib


Pengaturan Shaf Yang Benar


Panduan Lengkap, Praktis  Tentang Shalat Jamaah
Posisi Shaf


Pengaturan shaf (barisan dalam shalat), membentuk shaf di mulai dari arah kanannya Imam hingga sampai arah kiri dengan lurus dan rapat, demikian seterusnya. 

Sedangkan urutan shaf ialah tepat di balakngnya Imam shaf laki-laki dewasa kemudian di belakangnya shaf untuk anak-anak lalu di belakangnya perempuan.

Kenapa harus makmum laki-laki dewasa yang harus di belakangnya imam, sebab, makmum laki-laki yang sudah dewasa sewaktu-waktu bisa menggantikan imam jika imamnya batal dalam shalatnya.

Kalau anak kecil di kawatirkan wudlu dan bacaaan dalam shalat tidak pandai sehingga bisa membatalkan seluruh jamaah shalat.

Bila makmum hanya seorang, ia berdiri sebelah kanan imam dan berdiri agak belakang sedkit, bila ada makmum yang datang, maka ia berdiri agak belakang di sebelah kiri imam, kemudian makmum yang pertama mundur sedikit meluruskan dengan makmum yang baru datang.

Shalat yang di lakukan berjamaah dari 3 orang, maka membentuk seperti biasa, bila seseorang makmum mendapati makmum sedang ruku’, lalu boeh bagi makum mengikuti imam selalu imam tidak melakukan i’tidal (Makmum di anggap sempurna).


Bagaimana jika ada makmum yang baru datang kemudian tidak menemukan barisan (Shaf) yang lainnya. Maka sunnah baginya menarik makmum yang ada di depannya agar berdiri membentuk shaf dengan dirinya.

Tapi, ada syarat yang harus di penuhi jika ingin menarik makmum yang berada di depannya. Pertama orang yang menarik harus takbiratul ihrom dulu. Yang kedua makmum yang menarik dan yang di tarik harus sejenis, maksudnya kalau laki-laki ya harus menarik makmum laki-laki tidak boleh menarik makmum perempuan. 

Kalau ia mengikuti imam sedangkan imamnya i’tidal, maka bagi makmum tersebut harus menambah 1 rakaat lagi setelah salamnya imam (makmum tidak sempurna, tidak di hitung1 rakaat).

Begitu juga makmum yang mendapati imanya melakukan tasyahud ahir, maka bagi makmum yang mengikuti imam harus menambah semua rakaatnya, semisal shalat subuh, ia menemukan imamnya tasyahud ahir, setelah imam salam, makmum menyempurnakan 2 rakaat sebab ia mengikuti imam saat tasyahud tidak di hitung sebagai rakaat.

Makmum masbuk ialah makmum yang tidak bisa menyelesaikan al-fatihanya sebelum imam ruku’ (tanpa membaca bacaan yang sunnah).

Refrensi kitab I’anatut Thalibin Halaman 13
                       Tuhfatul Muhtaj Juz 8 Halaman 250






Tag : Islam
0 Komentar untuk "Panduan Lengkap, Praktis Tentang Shalat Jamaah"

Back To Top