Media Informasi Islam Terkini

Penting Di Ketahui, Prilaku Tamu Undangan Dalam Acara pernikahan

Penting Di Ketahui, Prilaku Tamu Undangan Dalam  Acara pernikahan
Tamu Undangan

Salam sejatera untuk sahabat-sahabat mursyid hasan, ahir-ahir ini web mursyid hasan jarang sekali memposting artikel, sebab banyak kesibukan yang harus di kerjakan, untuk itu mohon maaf kepada sahabat ataas ketidak nyamanan ini, untuk itu kiranya sahabat-sahabat  tetap semangat dalam mencari informasi terutama ilmu, semoga kedepannya web mursyid hasan ini bisa memberikan kemanfaatan bagi sahabat-sahabat khususnya.

Nah untuk kali ini web mursyid hasan sedikit membahas masalah perilaku tamu undangan ketika menghadiri walimatul Ursy atau Walimatul khitan sesuai dengan tuntutan syariat islam, artikel ini mengutip dalam kitab Fathil Mu’in dan kitab I’anatut Thalibin, semoga dengan hadirnya artikel ini bisa member kemanfaatan khususnya penulis.

Tamu dalam acara walimatul ursy (pernikahan) atau walimatul khitan di perbolehkn makan apa saja yang telah di suguhkan oleh ahlu bait (orang mengadakan acara resepsi) tanpa harus ada shiqot (di persilahkan). Tamu ialah sesorang yang menghadiri suatu acara dengan adaya undangan dari pihak penyelenggara, sedangkan at-Thafili yakni seseorang yang menghadiri undangan tanpa adanya undangan dari pihak penyelenggara. Tamu undangan atau at-thafili tidak di perkenankan memakan makanan yang sudah di suguhkan, jika pihak penyeenggara masih menunggu tamu undangan lain, tidak di perbolehkan ini selama tamu undangan yang di tunggu belum datang. Untuk Negara Indonesia terutama pedesaan tidak di pakai aturan syariat ini hanya saja berlaku saat menunggu waktu makan. Maka tamu undangan tidak di perbolehkan langsung makan (nyelonong Bhsa jawa) sebelum tuan rumah mempersilahkan ini saja masih menunggu tamu undangan yang di kira sudah banyak. (sesuai adat). Ada dua ulama menghukum makruh Tamu undangan atau at-thafili yang makan sampai kekenyangan, bahkan ulama lain menghukumi haram sanadnya dloif. Dalam kitab Nihaya dan At-tuhfah  dua pendapat tersebut  di satukan, di hukumi makkruh jika hartanya sendiri semisal saya menyelenggakan resepsi pernikahan lalu makanan saya lahap sampai terlalu kekenyangan maka ini makruh walaupun harta saya sendiri, di hukumi haram jika hartanya orang lain contoh saya menghadiri resepsi pernikahan yang jelas bukan harta saya, lalu saya memakan makanan sampai berlebihan (kekenyangan), maka di hukumi haram. Tidak teralu kenyanga ala kadarnya saja.

Ada hadist yang di nilai dloif bahwa Nabi Muhammad Saw melarang seseorang makan dengan bersandar diri pada tangan kirinya.

Imam Malik berkata posisi yang di maksud Nabi Muhammad Saw adalah satu bentuk  Ittika’ . Ittika’ sendiri ialah duduk dengan bertumpukan dua telapak kaki. Sedangkan ulama mengatakan maksud dari Ittika’ adalah menyondongkan salah satu sisi tubuh dengan bertumpukan sisi tubuh itu saja seperti halnya tidur miring.


Penting Di Ketahui, Prilaku Tamu Undangan Dalam  Acara pernikahan


Nah posisi makan sambil duduk yang di sunnahkan ialah makan dengan duduk melutut dan bagian luar telapak kaki di letakkan di bawah, atau telapak kaki bagian kanan di dirikan dan duduk di atas telapak kaki bagian kirinya seperti duduk Iftiros.

Kalau makan sambil duduk bertelekan (Ittika’) hukumnya makruh yaitu bertopang pada alas  yag ada di bawahnya, juga makruh makan sambil tiduran miring kecuali makan makanan yang bisa di ambil dan di makan saat posisi tidur miring namun hendaknya jangan di lakukan. Tidak di makruhkan makan sambil berdiri juga minum sambil berdiri namun yang lebih baik sambil duduk.

Kesunahan bagi tamu undangan walimah saat makan


Di sunnhakan mencuci kedua tangan khususnya tangan kanan, lalu sunnah pula berkumur baik sebelum makan dan sesudah makan, setelah itu membaca surat Al-Ikhlas dan surat Quraisy ini di baca setelah makan dan tidak menelan sisa makan yang terambil dengan mencukil sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, bahkan di sunnahkan di keluarkan. Lain hanya dengan yang terkumpul oleh lidah dari sela-sela gigi, ini berlaku di keluarkan/tidak boleh di makan kalau sisa makanan iti hanya 1 atau 2 biji saja.

Haram memperbesar suapan jika makanan yang akan di makan itu sedikit sedangkan suapan/mulutnya di perlebar dan dalam keadaan makan dengan cepat demi untuk mendapatkan makanan yang lebih banyak dan mengahalangi teman yang hendak mengambil makanan.

Tidak di perbolehkan bagi tamu undangan memberikan makanan yang di suguhkan kepadanya di berikan kepada orang yang meminta-meminta atau hewan, kecuali ada praduga yang kuat tuan rumahnya ridlo dan suka maka tidak mengapa.

Untuk tuan rumah di makruhkan mengkhususkan tamu yang satu dengan tamu yang lainnya dengan makanan yang mewah kecuali itu gurunya atau ulama. Apabila tamu undangan sengaja memecahkan wadah makanan maka wajib menanggungnya jika di yakini tidak ada keridloan dari tuan rumahnya, biasanya tuan rumah ikhlas ini kalau di wilayah pedesaan atau kota-kota di Indonesia. Sebagaimana yang telah di bahas oleh Imam az-Zarkasih karena wadah yang berada di tangannya di sebut sebagai Ariyah barang pinjaman.

Wajib bagi pemilik makanan, member makanan orang-orang yang kelaparansekedar untuk menyambung hidup jika ia di pelihara jiwanya baik muslim atau kafir dzimmi, sekalipun pemilik makanan itu membutuhkannya juga pada waktu yang akan datang. Demikian pula di perlukan untuk binatang yang muhtaramah milik orang lain, lain halnya jika yang kelaparan itu kafir harbi (kafir yang terus memusuhi/bahkan membunuh orang muslim), orang pezina yang enggan bertobat, orang yang tidak mau shalat dan mengingkari kewajiban shalat atau anjing yang galak, maka tidak di perbolehkan memberikan makanan itu kepadanya. Kalaupun di beri makanan maka tetap mengganti makanan yang di berikan kepadanya, jika ia di lain waktu memiliki makanan.

Demikinlah artikel yang dapat saya sampaikan semoga bisa bermanfaat bagi sesuanya khususnya penulis dan pembaca, nantikan artikel selanjutnya..aminnn..

Tag : Islam
0 Komentar untuk "Penting Di Ketahui, Prilaku Tamu Undangan Dalam Acara pernikahan"

Back To Top