Media Informasi Islam Terkini

Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo

Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo
Sesajen


Di Negara Indonesia Khusunya Di Pedesaan Masih Menyakini Adanya Kekuatan Atau Bahkan Bisa Melukai Seseorang Jika Melakukan Sesuatu Yang Bertentangan Dengan Tradisi, Maka Dari Itu Sebagian Masyarakat Pedesaan Masih Melakukan Ritual-Ritual Seperti Menaruh Sesajen Di Tempat-Tempat Tertentu Seperti Di Laut, Sumber  Mata Air Dan Di Perempatan Jalan, Ada Juga Yang Menaruh Tumbal Berupa Kepala Kambing Atau Sapi Dengan Kenyakinan Bahwa Tumbal Yang D Sediakan Untuk Roh Bisa Menyelamatkan Orang-Orang Sekitar.  Kalau Menyakini Sumber Kekuatan Atau Timbulnya Malapetaka Selain Allah Swt, Jelas Syirik, Dosa Besar, Untuk Itu Harus Di Jauhi Ritual Seperti Ini. 

Ritual-ritual seperti ini yang bertentangan dengan syariat harus di jauhkan, Nah solusi yang harus d terapkan bukan melarang secara keras, namun ada tata cara yang santun dan bertahap, agar orang-orang yang berfaham seperti ini tidak semerta-merta langsung menolak atau bahkan lari dari syariat yang benar dengan merubah tradisi yang demikian menjadi tradisi yang islami. 

Praktek ritual sesajen atau tumbal yang sering terjadi di masyarakat pada umumnya seperti ketika hendak membangun jembatan atau gedung biasanya melakukan sesajen seperti menyembelih kambing, kerbau, lalu mengambil kepala untuk di tanam di tempat di mana jembatan atau gedung di bangun, ini biasanya atas anjuran para dukun, dengan harapan agar jembatan atau gedung itu bisa bertahan, lancar atau membawa berkah.

Pada intinya yang namanya sesajen atau tumbal yang di sediakan untuk para leluhur, jin atau roh itu tidak di benarkan oleh syarat islam dan itu sebagai bentuk sesembahan, jadi ritual  yang menyebabkan keluar dari syariat islam di antara:


a. MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA ROH, JIN DENGAN BENTUK SESAJEN ATAU TUMBAL

Dalam agama islam, keberuntungan dan keberhasilan di sebut manfaat, sedangkan gangguan, kesialan, bencana  di sebut Madhara. Secara hakikat keduanya hanya berasal dari Allah Swt, tidak ada satu pun makhluk pun yang bisa memberikan kemanfaatn dan kehancuran keuali Allah swt semata. Artinya tidak ada makhluk yang di ciptakan oleh Allah Swt memiliki kekuatan apapun kecuali atas izin dari Allah Swt. Memang kita di perintahkan untuk meminta kepada Allah Swt. Seperti yang di firmankan oleh Allah Swt:

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi kemudharatan selain Allah Swt semata, sebab jika kamu berbuat, maka seungguhnya kamu termasuk orang-orang yang dhalim”, jika Allah Swt memberi kemuudharatan kepadamu, maka tidak ada yang bisa mencegahnya selain Allah Swt. Jika Allah memberi kenikmatan, maka tidak ada yang bisa menolaknya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang di kehendakinya di antara hamba-hambanya dan dialah yang maha pengampun lagi maha penyanyang, (Qs, Yunus, 106-107).

Dan juga Allah Swt memerintahkan kepada Rasulullah Swt untuk selalu menyembah kepada Allah dan jangan sampai menyekutukannya, seperti dalam firmannya:


b. MENYEDIAKAN MAKANAN UNTUK ROH ATAU LELUHUR TANPA ALASAN YANG DI BENARKAN OLEH SYARIAT

 Selain keyakinan yang menyimpang dari syariat islam, dalam pelaksaanannya pun masih ada yang perlu di sangsikan dalam tumbal dan sesajen. Dalam praktek tumbal, menyembih hewan, lalu kepala hewan itu di kubur di tempat-tempat yang di yakini menimbulkan kemudaharatan atau tempat yang mau di bangun sebuah jembatan atau gedung. Sedangkan sesajen, yaitu denagn mempersembahkan makanan, kopi atau rokok, terkadang ingkung ayam, di letakkan di bawah pohon, sumber mata air atau perempatan jalan, Nah, hal ini merupakan bentuk pengalokasian harta benda dan makanan dengan tanpa adanya alasan yang di benarkan oleh syariat islam dan termasuk menyia-nyiakan harta benda, yang jelas pelaksaannya itu di larang oleh syariat islam. Kitab Fathur al-Barry juz 10 hal 500 karangan Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitami. Dan kitab Tafsir al-Thubari juz 14 hal 568, karangan Imam at-Thubari. Hal ini seperti dalam firmannya Allah Swt:

”Sesungguhnya orang-orang yang suka membuang-buang harta dengan sia-sia termasuk saudaranya syetan, dan sesungguhnya syetan itu sangat ingkar terhadap tuhannya”.
Dalam hadits Nabi Muhammad Saw juga di sebutkan:

Sesungguhnya Allah Swt tida suka tiga perkara dari kalian, yang pertama saling bertengkar, menyia-nyiakan harta dan banyak meminta. Di riwayatkan oleh imam bukhori dan muslim.”

Imam at-Thabari dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang di maksud pemborosan dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang mengalokasikan hartanya untuk bermaksiat kepda Allah Swt dan tidak di gunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Dan terkait dengan hadits di atas ini. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa ada beberapa pendapat yang berkenaan dengan apa yang di maksud dari Idha’atu al-Mal, di antaranya sebagai berikut:

Berlebih-lebihanan dalam mentasyarufkan harta 
Mentasyarufkan harta ke jalan yang di larang oleh syariat islam
Mentasyarufkan harta ke jalan yang di haramkan oleh gama islam
Sedangkan orang yang menyia-nyaiakan harta harus di cegah


Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo
Sesajen


B. SOLUSI BIJAK ORANG SHALEH

Setelah kta mengetahui bahwa sesajen atau tumbal termasuk hal-hal yang di laarang oleh syariat islam, maka solusinya adalah dengan menghilangkan sisi-sisi yang di larang oleh syariat dan mengubahnya dengan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat. Sebenarnya solusi termasuk sudah di berikan oleh wali songo, yaitu dengan mengubah menjadi selametan, ini sesuai dengan apa yang di lakuakn oleh Nabi Muhammad Saw, ketika beliau merenovasi bangunan ka’bah beliau tdak menggeser dari posisi semula, melainkan beliau menambahi luas dengan pondasi yang sudah ada sejak kaum jahiliyah, ini di lakuakn agar kaum qurais tidak pecah belah dan tidak tejadi salah faham..
Kenyakinan yang berbau animisme dan dinamisme di rubah menjadi tradsi yang islami dengan cara memasukkan tradisi islami tanpa merubah tradisi yang sudah ada, dengan cara membaca do’a-do’a tertentu dengan memakai gamelan, tembang. Dalam do’a tersebut berisikan meminta kemanfaatan, keselamatan dan keberkahan dalam segala hal. 

Sedangkan untuk menghilangkan sisi Dhiyau al-mal yang di larng oleh syariat, para wali songo mengubahnya dengan memperbanyak sedekah berupa makanan, buah-buahan kepada warga sekitar, sehingga makanan tersebut bermanfaat kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Diakui atau tidak , strategi seperti ini sangat luar biasa, karena wali sogo yang merupakan salafus Shaleh Nusantara bisa merubah hal-hal yang berbau syirik, di rubahnya menjdi tradisi yang islami. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Nabi Muahmmad saw. Di antara:

berlaku baik kepada budak akan mendatangkan keberkahan dan berlaku buruk akan membawa kesialan, taat kepada wanita berakibat penyesalan dan sedekah akan mencegah ketentuan yang buruk

Ada hadits Nabi Muhammad saw yang menyebutkan “bahwa sedekah dapat menutup tujuh puluh pintu kejelekan (petaka)”. Dan juga “bersedekah mencegah mati dalam keadaan buruk

Selanjutnya berkenaan dengan penyembelihan hewan, ketika menyembelh seekor hewan tetap di niatkan mendekatkan diri kepada Allah caranya ketika menyembelih membaca “Bismillahirrahmannirrahim”. Dan memohon agar Allah Swt menjauhkn dari hal-hal yang membahayakan dirinya atau keluarganya dari kejahatan syeitan yang terkutuk maka penyembelhan seperti ini di perolehkan. Namun kalau di niatkan untuk di persembhkan kepada jin, syetan atau roh, semisal di taruh di pohon besar, sungai, perempatan jalan dan laut, maka tradisi ini sangat bertentangan dan melanggar syariat islam. Kalau ingin mengubr, maka cukup mengubur tulang-belulangnya saja, dan di naitkan sedekah apada jin untuk Daf’ul al-Bala’ (menolak malapetaka), karena memang sebenarnya makanan jin itu ulang, sebagaimana Nabi Menjelaskan dalam Hadits:

Seorang Da’i kalangan jin mendatagiku, maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca al-qur’an di hadapan mereka,’ perawi hadits berkata” Lalu berajak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan jejak perapian mereka. Dan mereka meminta kepadanya bekal, maka beliau bersabda,” Bagi kalian, setiap tulang yang di sebutkan nama Allah Swt atasnya ketika di sembelih, yang mana tanganya kalian lebih menjadi daging dan setiap kotoran hewan adalah makanan untuk hewan tunggangan kalian,” lalu Rasulullah Saw bersabda,” maka janganlah kalian beristinjak dengan kotoran dan tulang hewan, karena keduanya adalah makanan jin”.

Dari penjelasan di atas ini bahwa tradisi tumbal dan sesajen tidak selaras dengan syariat islam, akan tetapi bisa di lestarikan dengan mengganti kenyakinan serta prosesinya dengan hal-hal yang bernilai islami sebagaimana yang telah di contohkan oleh para wali songo, sepeti mengadakan tahlilan bersama, baca doa dan shalawatan dengan niatan agar Allah Swt melindungi dari segala marabahaya.


Kesimpulan yang dapat di ambil dari penjelasan d atas yaitu:

a. Manfaat dan cobaan hakikatnya dari Allah Swt, maka dari itu jangan sampai berkenyakinan jin, syeitan dan roh memiliki kekuatan sampai rela memberi sesajen atau tumbal, ini perbuatan dosa.

b. kalau diyakini akan ada musibah atau bencana, selayaknya berkumpul di majlis yang mulya seperti masjid atau mushalah menggelar istiqosah, membaca shalawatan, tahlilan dengan harapan musibah tidak datang, kalau sebalikanya, ada musibah lalu menyediakan sesajen atau tumbal, dengan harapan agar musibah itu tidak terjadi, maka ini justru akan mempercepat adanya musibah, jangan membuang bau jengkol dengan bau petai.

c. sesajen atau tumbal dalam islam tidak di benarkan, maka solusi menggantinya dengan selametan, istighasah dan menggelar do’a bersama, dengn mengharap ridlo dari Allah swt, dan makanan di sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan, pasti sedekah yang kita sedekahkan kepada orang fakir akan terucap dari bibir mereka sebuah doa yang tulus ikhlas..

Semoga artikel ini bisa menjadi sebuah amal kebaikan bagi penulis dan menjadikan kita sebagai umat Nabi Muhammad saw yang selamat dari ganasnya kehdupan ini menuju alam yang kekal.aminn.




Tag : Islam
0 Komentar untuk "Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo"

Back To Top