Media Informasi Islam Terkini

Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”

Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”
Rabu Wekasan

Sahabat mursyid hasan yang selalu mendapatkan perlindungan dari Allah Swt, besok adalah hari rabu wekasan, yang di yakini oleh sebagian masyarakat sebagai hari Allah Swt menurunkan bala’, rabu wekasan ini jatuh pada hari rabu ahir bulan safar, untuk itu kita tingkatkan ibadah kita kepada Allah Swt, agar kita selalu dalam lindungannya, untuk lebih jelasnya mari kita sama-sama membaca artikel  di bawah ini.

Sering kita mendengarkan istilah rebu wekasan yang di yakini oleh orang jawa sebagai hari di mana Allah menurunkan penyakit dan bala’ (cobaan), terkadang pada hari itu orang-orang jawa yang hendak bepergian jauh dan bertepatan hari rebu wekasan, niat perjalanannya di tunda dengan alasan takut terkena bala’, sehingga banyak pemuka agama menganjurkan masyarakatnya untuk melakukan shalat secara berjama’ah, puasa atau mengadakan pembacaan istighasah dan pembacaan shalawat nariyah, yang jelas sejak kapan istilah rebo wekasan itu di mulai dan di kenal atau hanya sekedar siasat dari para guru-guru kita terhadap kebiasaan kejawen masyarakat jawa. Namun secara mashur istilah rebu wekasan jatuh pada ahir bulan safar, sehingga mereka menjalankan ritual khusus yang di ajarkan oleh tokoh masyarakat setempat, dengan beragam ritual yang berbeda, ada yang berpuasa juga ada yang shalat berjamaah atau mengadakan pembacaan istighasah dan shalawat nariyah, sehingga perlu penjelasan atau kepercayaan yang di yakini masyarakat kita ini.

Menyikapi keyakinan yang berkembang di masyarakat kita bahwa rebu wekasan adalah hari sial atau hari di turunkannya bala’ “cobaan”, jika keyakinannya adalah hari rebu wekasan sendirilah yang menyebabkan bala’ atau membawa kesialan, sebagaimana anggapan orang-orang ahli nujum (peramal), semisal menyakini bahwa hari rebu wekasan merupakan hari yang berbintang merkuri sedangkan bintang meskuri adalah lambang kesialan, maka anggapan itu adalah kenyakinan yang keluar dari konteks ajaran agama islam (salah besar, karena sebagai orang yang berimana kita harus tetap meyakini bahwa segala sesuatu yang berupa kebaikan atau keburukan semuanya hanya dari Allah Swt, di riwayatkan dari sahabat Abi Hurairah Ra. Dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda:
Abu Salamah Bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku bahwa Abu Hurairah berkata” sesungguhnyaRasulullah Saw bersabda: “Tidak ada ‘Adwa (menyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada safar (menjadikan bulan safar sebagai bulan haram atau bulan keramat), dan tidak ada pula Hammah (tidak ada ruh yang sudah meninggal menitis pada hewan).

Yang di maksud dengan hadits di atas ini menceritakan bahwa orang jahiliyah dulu menganggap sial bulan rajab dan mereka mengatakan bulan rajab itu bulan membawa sial, anggapan ini di bantah oleh Baginda Nabi Muhammad Saw, sabda nabi ini di riwayatkan oleh Abu Dawud dari Muhammad Ibn Rasyid al-Mahkuli. Kebanyakan dari orang-orang jahiliyah menganggap sial bulan rajab, bahkan dari mereka melarang untuk bepergian pada bulan ini. Cerita ini sesuai kejadian yang di alami oleh masyarakat jawa pada umumnya yang menganggap rebu wekasan itu hari sial. Adapun hadits yang menjelaskan bahwa hari rebu wekasan itu tidak shahih.

Penelitian para ahli hukum, pada umumnya orang-orang tersebut tidak menyibukkan diri dengan sesuatu amaliyah yang di jadikan sebagai Washilah untuk meolak mara bahaya, seperti menambah ketaatankepada Allah swt, justru mereka menyepi dan menetap saja di dalam rumah. Bahkan sebagian di antara mereka malah menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat yang justru menguatkan di turunkannya bala (cobaan). Ajaran yang di bawa oleh oleh syariat justru tidaklah mereka hiraukan, ajaran yang sebenarnya bisa menghindari dari cobaan, sepeti dengan berdo’a, melakukan amal kebaikan, shalat berjamaah, bukan malah melakukan kemaksiatn dengan alasan menghindari bala’, jangan coba-coba menghilangkan bau jengkol dengan makan petai.

KESALEHAN ULAMA JAWA MENYIKAPI REBU WEKASAN

Jika istilah rebu wekasan di anggap sebagai hari di turunkannya beberapa bala atau cobaan, lalu di jadikan sebagai alat untuk menakut-nakuti umat agar umat semakin giat, istiqhamah dalam menjalankan perintah Allah Swt atau memperingatkan atas azab Allah Swt yang di turunkan oleh Allah Swt supaya orang-orang memperbaharui taubatnya dengan kekhawatiran takut terkena azab maka hal ini di perbolehkan menganggap rebu wekasan sebagai hari sial dengan alasan yang di benarkan oleh syara’. Sebagaimana mengatakan” takutlah kalian semua pada hari dimana pada hari itu Allah Swt menurunkan azab dan pada hari itu kalian akan mati, maka bertaubatlah kepada Allah Swt kekhawatiran kalian semua tertimpa kesengsaraan sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kalian”. Dalam hadits Nabi Muhammad Saw.

Dari Sayyidah Aisyah berkata” sya tidak pernah melihat Rasulullah Saw tertawa terbahak-bahak sehingga melihat anak lidahnya, beliau hanya tersenyum,” Sayyidah Aisyah berkata;” Apabila beliau melihat awan atau aingin hal itu dapat di ketahui pada wajah beliau.” Sayyidah aisyah berkata” Wahai Rasulullah Saw, Apabila orang-orang melihat awan, mereka sangat bahagia dengan harapan supaya turun hujan. Sedangkan saya melihat engkau setiap kali melihatnya tampak kekhawatiran yang terpancar dari wajah beliau.” Beliau bersabda;” Wahai Sayyidah Aisyah, saya tidak merasa aman, jangan-jangan isinya mendatangkan siksaan. Telah di azhab sesuatu kaum dengan angin dan sesuatu kaum melihat azab, namun dia malah mengatakan,” inilah awan yang mengandung hujan, yang akan menghujani kami” padahal justru awan itu mendatangkan musibah” (Qs, al-Ahqaf, 24), (HR, bukhari) kitab shahih bukhari juz 15 hal 55.

Sesuai dengan isi di atas tadi, bahwa Rasulullah Saw meakukannya dengan alasan menakut-nakuti dan membuat khawatir umatnya di saat keadaan yang sama seperti ketika Allah menurunkan azab terhadap kaum ‘Ad. Meskipun beliau tidak menyakini dengan zab yang di bawa oleh mendung di langit saat itu, sehingga apa yang telah di lakukan oleh sebagian tokoh masyarakat kita dengan istilah rebu wekasan sama dengan apa yang telah di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw terhadap umatnya. Kitab Faidu al-Qodir Syarh Jami’ul ash Shaghir juz 1 hal 61.

Di dalam kitab al-jawahir al-qausi di sebutkan ada 320 ribu bala yang di turunkan setiap tahun, dan semuanya di turunkan tepat pada hari rebu di ahir bulan Safar dengan istilah rebu wekasan, sehingga hari itu di sebut hari paling sulit di setiap tahunnya, dan di sebutkan beberapa amaliyah-amaliyah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, agar terhindar dari bala’ pada hari itu. Di anjurkan menjalankan shalat sunnah 4 rakaat dengan membaca surat al-kautsar sebanyak 17 kali setelah membaca al-fatihah dan juga surat ikhlas 5 kali dan surat An-nas dan al-falaq 1 kali, juga memohon perlindungan kepada Allah Swt dengan membaca do’a-do’a

  بسماالله الحمن الرحيم يا شديد القوي وشديد المحال

Juga menuliskan ayat yang di mulai dengan as-Salam di atas kertas putih dan di larutkan kedalam air putih kemudian di minum, ddengan harapan Allah Swt menghindarkan dari malapetaka di dalam satu tahun ini. Adapun ritual pada hari rebu wekasan ini hanyalah sebagian saja, dalam keterangan lain di jelaskan tatacara shalat yang berbeda, semisal bacaanya setelah membaca al-fatihah adalam surat An-nas dan Al-Falaq dan ayat kursi, jumlah rakaatnya adalah 12 rakaat dan di lakukan pada siang hari, sebagaimana di jelaskan dalam kitab al-Ghanimah juz 2 hal 242. Dalam bab keutamaan shalat Sunnah di hari Rabu.


Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”
Musibah


Kalau yang di lakukan di pesantren yang penulis singgahi sekarang yaitu setelah shalat maghrib pada malam rabu wekasan membaca surat yasin setelah sampai pada ayat Salamun Qoulam mirrabbirr rahim, di baca sebanyak 313 ada yang membaca 310 ada yang 333, yang penting intinya sama beribadah kepada Allah Swt dengan mengharap ridlo dan mengarap lindungan dari Allah semata.

Meskipun demikian melakukan tolak bala’ (rebu wekasan) harus di lakukan dengan cara-cara yang telah di anjurkan oleh syara’ seperti perbanyak berdo’a, sedekah dan melakukan amal kebaikan yang positif, jika melakukan amal-amal yang mengandung kemungkaran itulah yang justru mempercepat turunnya malapetaka, amal seperti ini yang harus di luruskan agar tidak berdampak pada kaum yang lain.kendati demikian melakukan sahalt rebu wekasan atau berpuasa dengan niatan mengharap ridlo dari Allah Swt serta sebagai washilah dengan melakukan amal shaleh Allah Swt selalu menyelamatkan hambanya yang taat dari malapetaka. Dan yang perlu di perhatikan shalat rebu wekasan di lakukan dengan niat shalat Sunnah mutlak, bukan shalat yang di syariatkannya karena hari hari rabu itu, semoga tidak salah pemahaman.

Syeikh Abdur Ra’ud Bin Tajul ‘Arifi (al-Munawi), menyebutkan.

“Nabi Muhammad Saw ketika melihat mendung maka beliau menyegerakan shalat, sehingga kemudian jika telah turun hujan maka kegelisahan beliau hilang, lalu baginda Nabi Muhammad Swa bersabda,”Aku tidak menyakini awan mendung sebagai pembawa azab, sebagaimana yang telah terjadi pada sebagian umat terdahulu, Maka nabi Muhammad Saw menakuti umatnya dengan sesama apa yang di katakana oleh umat-umat terdahulu (yang di azab dengan awan mendung)” ini adalah awan yang mengandung hujan” akan tetapi justru tidak sebagaimana yang mereka duga, malah menjadi sebuah musibah dari Allah Swt. 

Dengan demikian kita harus hati-hati dalam bertindak harus sesuai dengan syariat islam, agar kita mendapatkan perlindungan dari Allah Swt dan mendapat Syafaat dari Baginda nabi Muhammad Saw, 

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi jalan menuju kebenaran yang telah di tentukan oleh Syariat. Aminn..

Tag : Islam
2 Komentar untuk "Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”"

tahnk nih infonya gan, semoga kita selalu terhindar dari malabahaya dan dilindungi ALLAH SWT.

Back To Top