Media Informasi Islam Terkini

Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik

Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik


Nama adalah do’a, mungkin itulah doktr yang melekat pada benak masyarakat. Di saat mendapatkan momongan, masyarakat Indonesia biasanya memberi nama anak mereka dengan nama yang indah juga memiliki arti yang baik juga dan memiliki filosofi yang menjadi harapan besar agar anaknya kelak bernasib baik sesuai arti namanya, seperti nama Bejo dalam bahasa Indonesia agar kelak menjadi manusia yang beruntung, Sugiarto Bahasa indonesia kaya harta dengan harapan kelak anak mereka menjadi kaya harta. Kebijaksanaan masyarakat jawa dalam memberi anak yang terdapat unsur tafa’ul ini selaras dengan tuntunan syariat islam.

Dalam prespektif syariat, orang tua di perintahkan untuk memberi nama yang indah untuk buah hatinya dan kelak di hari kiamat setiap manusia akan di pangggil dengan namanya beserta nama orang tuanya, sebagaimana hadits nabi Muhammad Saw, yang di riwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih.

Sesungguhnya kalian semua  kelak di hari kiamat akan di panggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama orang tua kalian, maka hendaknya perindah nama-nama kalian semua”. Kitab Shahih Ibn Hibban juz 13 Hal, 135, Ma’tabah Muassisah ar-Risalah.

Lalu bagaimana jika ada seorang ibu meninggal dunia beserta janin yang di kandungnya, apakah tetap sunnah di beri nama atau tidak?

Jika ada ibu hamil lalu meninggal dunia berserta janin yang di kandungnya maka tidak sunnah untuk di berikan nama pada si jabang bayi. Sedangkan untuk bayi yang mati sebab keguguran, maka selayaknya di beri nama. Abdurrahman Ibnu Yazid Muawiyah berkata, “telah sampai kepadaki keterangan bahwa jabang bayi yang mati dalam keadaan keguguran tersebut jika tidak di beri nama akan berteriak di belakang ayahnya, sembari berkata, “kau telah menyia-nyiakan aku dan meninggalkan aku begitu saja tanpa memberiku nama”, lantas Umar Bin Abdul Aziz berkata, “ Bagaimana memberi nama padahal tidak di ketahui persis jenis janin apakah laki-laki atau perempuan?” Abdurrahman menjawab,” berikan sebuah nama yang bisa mengakomodir keduanya, semisal hamzah, Amarah, Thalhah atau Utbah. Kitab Ihya’ Ulum at-Din Juz 2 Hal 54 kayra Imam Al-Ghazali. 

WAKTU DI SUNNAHKAN MEMBERI NAMA PADA BAYI

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu memberi nama pada bayi, ada ulama yang berpendapat sunnah untuk memberi nama pada hari ke tujuh  dari kelahirannya, ini berlandaskan pada Hadits Samurah yang lalu, yakni:

“Anak tergadaikan dengan hewan aqiqahnya, hewan aqiqah di sembelih sebagai hewan tebusan dari hari ketujuh kelahirannya, dan anak tersebut di beri nama, dan di potong rambutnya “HR, ABU DAWUD” Hadits ini di riwayatkan oleh Imam At-Turmudzi dan beliau menilai hadits ini sebagai hadits hasan shahih dan para ahli hadits hadist ini sebagai dalil kesunnahan aqiqah.

Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kesunnahan memberi nama bayi berlaku saat tepat pada hari kelahirannya, hal ini di karenakan terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskannya, di antaranya:

Malam ini anakku di lahirkan, dan aku memberi nama pada bayi yang kulahirkan dengan nama seperti nama datuknya yaitu Ibrahim (HR.Muslim) Kitab Shohih Muslim jus 2 Hal 324, karya Imam Muslim.

Rasulullah Saw, juga mentahni’ (Memamah makanan lalu di letakkan kelangit-langit mulut bayi), lalu beliau memberi nama pada bayi yang di bawa oleh sahabat Anas Ibn malik dengan nama Abdullah, dan pendapat kedua inilah yang di amalkan oleh masyarakat sekarang, khususnya yang berlaku di rumah sakit, petugas medis akan menanyakan terhadap orang tua bayi tentang nama yang akan di berikan pada bayinya, lalu di tulis di kertas untuk kelengkapan atministrasi. Kitab Syarh Al-Yaqut an-Nafis hal 832 karya Muhammad Ibn Ahmad Ibn Umar As-Syatiri.

KLASIFIKASI NAMA


Di perbolehkan nama bayi di beri nama apapun selain nama yang di larang oleh syariat islam seperti contoh di beri nama Syaitonirrojim walaupun mengambil dari Al-Qur’an atau Fir’aun dengan alasan agar anaknya kelak menjadi orang hebat, maka tetap tidak di perbolehkan. Dalam konsep Syariat islam terdapat beberapa klasifikasi berkenaan dengan pemberian nama yaitu:

a. Nama yang sunnah menurut ulama secara berurut yaitu kata yang di berikan kepada anak yaitu memiliki arti penghambaan kepada Allah Swt, seperti Abdullah, Abdus Somad da’i kondang asal Riau dengan kealiman yang beliau memiliki, Abdurrosyid dan banyak uang lainnya di sebutkan dalam hadits:

Sesungguhnya nama-nama yangpaling di sukai oleh Allah swt yaitu nama-nama seperti’ Abdullah, Abdurrahman”. Kitab Shahih Muslim jus 2 Hal 255.

Setelah dua nama di atas nama terbaik urutan berikutnya adalah nama Muhammad, kemudian ahmad, kemudian Ibrahim, menurut hemat Syeikh Ibn. Abidin dalam kitabnya Durrul Mukhtar, nilai keutamaan pada nama-nama ini berlaku bagi yang menghendaki pemberian nama dengan kata yang memiliki arti penghambaan, sehingga tidak akan kontradiksi dengan keterangan yangmenjelaskan bahwa nama Muhammad Dan Ahmad lebih di sukai oleh Allah Swt, dari semua nama yang ada, karena Allah swt. Tidak akan memilih nama untuk Nabi dan kekasihnya melainkan nama itu adalah nama yang paling baik dan di sukainya. Di antara hadits yang menjelaskannya adalah sebagaimana yang di keluarkan oleh ar-Rafi’i dari Abi Umamah al-Bahili bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

Barang siapa yang di karunia seorang anak, kemudian menamakan anakanya dengan nama Muhammad karena cinta kepadaku dan mengharapkan kebaikan dengan namaku, niscaya dia dan anaknya d dalam surga”. Hadits ini di riwayatkan oleh ar-Rafi’i dari Umamah dan menurut as-Suyuty dalam kitab Mukhtashor Maudlu’i, hadits ini memiliki sanad Hasan. Kitab as-Suyuthi, al-jami’ ash-shagir jus 2 Hal 352.


Dan Hadits Nabi Muhammad Saw:

“kelak di hari kiamat ada penyeru yang berseru di sisi Allah swt, siapa yang namanya berdirilah, dan di kala mereka telah berkumpul di hadapan Allah Swt, lantas Allah Swt.memerintahkan mereka masuk surga sebagai bentuk memulyakan terhadap Nabi Muhammad saw. (HR. AL-BUKHORI). Kitab Syarh Shohih Bukhri jus 35 hal 25 Maktabah as-Syamilah.

b. Nama-nama yang di anggap buruk “Qabihah Makruh” adalah nama-nama yang tidak berkaitan dengan kebaikan sperti syaithan, himar.

c. Sengkan nama-nama haram adalah nama-nama hamba yang di sandarkan pada selain Allah Swt seperti Abdul Ka’bah, Abdul Uzza.


Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik



MENGGANTI NAMA

di sunnahkan bagi kaum muslimin mengganti nama yang jelek dengan nama-nama yang baik menurut Syari’at, dalam beberapa hadits di sebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. Telah mengganti banyak nama sahabatnya dengan nama yang baik, di antanya seorang wanita putri Umar yang bernama ‘Ashiyah (Wanita Durhaka) beliau mengganti dengan nama Jamilah (Cantik Rupawan). Dalam hadits di sebutkan:

Bahwasannya Nabi Muhammad Saw mengganti nama ‘Ashiyah dan bersabda’ engkau adalah jamilah

Namun jika melihat kebiasaan masyarakat Indonesia mengganti nama menjadi hal yang lumrah, perubahan tersebut di sebabkan karena bermacam-macam faktor seperti kurang keren, condong ke arah agama non islam, karena sakit-sakitan dengan harapan jika anaknya ganti nama bisa tidak sakit-sakitan lagi, atau ingin mendapatkan berkah dari si pemilik nama yang di gunakan (Tafa’ul).

Dalam menyikapai hal tersebut para ulama tidak ada yang berselisih pendapat tentang hal mengganti nama, sedangkan mengganti nama yang jelek merupakan anjuran syariat. Bahkan ulama Madzhab Hanabilah memperbolehkan memberi nama lebih dari satu kali. Kitab Al-Mausu’ah al-fiqhiyah juz 11 hal 337. 

Sedangkan mengganti nama karena kepercayaan (Mitos) bahwa nama mampu mempengaruhi kesehatan anak hukumnya tidak apa-apa selama masih menyakini bahwa yang memberi kesehatan atau penyakit adalah Allah Swt semata. Dan kejadian tersebut sifatnya adab. Mengganti nama dengan nama orang-orang shalih sebagai tafa’ul maka hukumnya adalah Sunnah.

Demikianlah uraian tentang Sunnah memberi nama pada anak sesuai tuntunan Syariat Islam, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, khususnya penulis di di dunia dan akhirat. aminn


Tag : Islam
1 Komentar untuk "Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik"

Back To Top