Media Informasi Islam Terkini

Inilah Hukum Menggunakan Minyak Wangi Berakohol Berlandaskan Kitab Klasik

Inilah Hukum Menggunakan Minyak Wangi Berakohol Berlandaskan Kitab Klasik
Minyak Wangi Berakohol


Salam sehat untuk sahabat-sahabat mursyid hasan, kali ini mursyid hasan tidak jauh beda membahas seputar permasalahan yang di hadapi oleh kebanyakan masyarakat, khususnya untuk teman-teman santri yang baru singgah di pesantren.

Kemarin waktu ane ngajar tentang bab najis banyak santri bertanya dan beranggapan bahwa campuran alkohol dalam parfum itu najis, jadi tidak boleh di gunakan baik untuk shalat atau di luar shalat.

Ketika ane dalam perjalanan pulang kampung saat itu liburan pesantren, ane di  bis duduk dengan seorang kakek-kakek, lalu kakek itu menegor ane, dek jangan makai parfum yang ada campuran alkoholnya, sebab alkohol itu najis, ane diam saja?

Untuk meluruskan anggapan yang kurang begitu benar ini web mursyid hasan akan memberikan informasi hukum parfum bercampur dengan alkohol semoga bermanfaat.

Hukum menggunakan parfum yang berakohol ketika shalat itu di perbolehkan, jika kadar alkoholnya itu sebatas kadar untuk  mengharumkan, mengawetkan atau mempertajam bau parfum, maka di perbolehkan, sebab bercampurnya alkohol dalam minyak wangi itu merupakan kebutuhan dan di ampuni oleh Syara’. Hal sesuai dengan penjelasan Syeikh Ibnu “imad dalam kitab Fath al-jawad sebagai berikut” parfum yang di campur dengan alkohol itu boleh di gunakan ke pakaian baik utnuk shalat atau di luar shalat ini menurut pendapat yang di tashih (di benarkan) dalam kitab Raudlah.

Jika seseorang mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa alkohol yang di campur ke dalam parfum itu najis, sebab, khamr yang menjadi acuan analogi hukum najis masih di perselisihkan di kalangan ulama, apakah khamr itu najis atau tidak. Perselisihan itu terjadi sebab terjadi perbedaan dalam menafsiri kata Rijsun dalam surat al-maidah ayat 93:

 أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

menurut Imam Al-Muzani dalam ayat Rijsun itu bukan berarti najis, jika kata itu di artikan najis, akan menimbulkan kejanggalan dalam kata al-maisir (berjudi), Al-Ashab (Berhala), aslam (mengundi najis dengan panah) yang jelas tidak bukan benda-benda najis. Kata Rijsun lebih tepatnya di artikan perbuatan keji yang harus di hindari.

Di kalangan ulama Asyafi’iyah kata rijsun dalam ayat tadi memungkinkan bermakna dua arti yaitu perbuatan keji atau bermankna najis, karena tidak ada indikasi yang menguatkan salah satunya, maka kata rijsun di artikan untuk keduanya sekaligus. Sehingga, ini memberi kesimpulan bahwa khamr termasuk benda najis dan meminum kamr termasuk perbuatan keji yang harus di hindari. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa khamr itu suci, namun haram meminumnya sebab memabukkan.

Demikianlah artikel singkat ini semoga bisa memberi kemanfaatan untuk semua orang khusunya masyarakat muslim baik di dunia dan akhirat. Aminn..







Tag : Islam
5 Komentar untuk "Inilah Hukum Menggunakan Minyak Wangi Berakohol Berlandaskan Kitab Klasik"

Alhamdulillah selama ini minyak wangi yang saya pakai selalu non alkohol.

saya sendiri pakai non alkohol gan lebih fresh baunya ketimbang alkohol...

iya betul itu Gan..kalau untuk ibadah minyak wangi merklonde minyak asal pontianak no alkohol lengket.walaupun di cuci baunya masih lengket...

Mantap gan, menambah wawasan

Back To Top