Media Informasi Islam Terkini

Hukum Dan Hikmah Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama

Hukum Dan Hikmah  Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama
Menindik Bayi Perempuan

Menindik Telinga Anak Kecil Dengan Jarum Khusunya Anak Perempuan, Sering Sekali Di Lakukan Oleh Orang Tua, Ini Sudah Lumrah di Lakuakan Saat Aqiqah Hari Ketujuh Atau Sebelum Berumur 2 Tahun, Alasan Yang Ada Ialah Agar Kelak Putri Mereka Saat Sudah Dewasa Menjadi Putri Cantik Yang Menawan Dengan Memakai Anting Di Telinga Mereka, lebih-lebih ketika putri mereka sudah berkeluarga, jadi fungsinya anting itu untuk memperindah dan mempercantik seorang perempuan pada pasangan hidupnya yang halal.

Bagaimana hukum dan hikmahnya menindik telinga?

Menindik bagian anggota tubuh selain telinga hukumnya haram secara mutlak sepeeti menindik hidung, lidah, alis mata dan perut, alasan keharaman tersebut sebab melubangi atau menindik di anggota selain telinga bukan tempat untuk menghias diri. Beda halnya menindik telinga dan menggantungkan anting berupa emas atau perak bagi perempuan itu sudah sepakat di seluruh dunia bahwa tempat  itusebagai tempat menghias atau mempercantik diri. Ini menurut kitab Hasyiyah I’anatut Thalibin  Juz 4 Hal 285.

Ulama dalam menyikapi perempuan melakuakn tindik yang di lakukan orang tua mereka dulu, telah meremuskan bahwa praktek seperti di perbolehkan, memang kerena praktek ini telah di lakukan oleh para wanita di zaman Rasulullah Saw, tidak adanya pelarangan dari baginda Nabi Muhammad Saw untuk perkara ini. Keterangan kitab Mausu’ah al-fighiyah juz 11 hal 272.  

Dan juga dallam teks ini sahabat Ibnu Abbas Ra. Meriwayatkan sebuah hadist nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

bahwa Nabi Muhammad Saw melakukan shalat Ied dua rakaat, beliau tidak mengerjakan shalat sebelum maupun sesudahnya, kemudian baginda Nabi Muhammad Saw menemui para wanita turut juga bersama belia sahabat Bilal Bin Rabbah, kemudian beliau memerintahkan mereka para wanita untuk bersedekah, hingga para wanita banyak yang melempar anting mereka". Kitab shahih Bukhari juz 7 halaman 204.

Dalam hadist yang di riwayatkan oleh al-bukhri nabi dalam kasus ini tidak melarang para wanita yang memakai anting dan menjadikannya sebagai sedekah. Hal ini di fahami oleh ulama bahwa menindik itu hukumnya di perbolehkan. Bukti lainnya juga berlandaskan hadist Nabi Muhammad Saw. Yang di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:

“Dari Aisyah berkata: ada sebelas wanita sedang duduk-duduk kemudian berjanji sesama mereka untk tidak menyembunyikan sedikitpun seluk-beluk suami mereka..para wanita itu berkata,” suamiku adalah Abu Zar’in, tahukah kalian  siapaAbu Zar’in itu? Ia mengerak-gerakkan perhiasan kedua telingaku, memenuhi lemah kedua lenganku, dan membahagiakanku sehingga jiwaku turut bahagia...’Aisyah berkata” Rasulullah Saw, bersabda,” terhadapmu aku seperti Abu Zar’in terhadap Ummu Zar’in. Kitab Shahih Bukhari Juz 1 Hal 153

Hadist ini juga menjadi pegangan bahwa Rasulullah Saw tidak  melarang para wanita memakai tindik sebagaimana kisah Ummu Zar’in memakai tindik, Rasulullah menggambarkan kasih sayang dan pemberian yang beliau berikan kepada Aisyah sama seperti perlakuan Abu Zar’in kepada Ummu Zar’in. Kitab I’anatut Thalibin juz 4 Halaman 289.

Imam Ibnu hajar Al-Haitami dalam menyikapi riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebut bahwa tindik itu boleh di lakukan pada bayi hukumnya sunnah sebagai ridaksi beliau dalam kitabnya:

“Dari Ibnu abbas bahwa beliau menyebut menindik bayi itu termasuk dari kesunnahan”. dalam kitab beliau. Kitab al-A’lam Li az Zarkali juz 8 Hal 36

Beliau berpendapat hadist yang di riwayatkan oleh Imam At-Thabrani dengan perawi yang terpercaya secara jelas menunjukkan boleh menindik bayi perempuan.di antara para ulama yang memperbolehkan melakukan tindik pada bayi perempuan ialah Imam Abu Hanifah , Imam Ahmad Bin Hambal, dari kalangan Madzhab Syafi’i ialah Imam Az-zarkasyi , Imam Syibramulisi kesemua ulama ini memperbolehkan wanita menindik telinganya, kalau untuk laki-laki tidak di perbolehkan secara mutlak, mereka memberi alasan bahwa tidak di perbolehkannya menindik bagi laki-laki:

Yang pertama dalam dua hadist yang di sebutkan di muka tadi hanya menceritakan tindik bagi kaum wanita bukan laki-laki. 


Hukum Dan Hikmah  Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama
Wanita Memakai Anting


Yang kedua tindik ini berlaku bagi wanita untuk menghiasi dirinya sedangkan bagi laki-laki tidak ada tempat untuk berhias diri, dan laki-laki pada Urfnya tidak membutuhkan perhiasan ini.

Ke tiga pada dasarnya menindik telinga ini sungguh menyakitkan. Dan pastinya menimbulkan sakit, maka itu tidak di perbolehkan sebab menyakiti diri, namun di perbolehkan bagi wanita sebab ada haajat (kepentingan), maka rasa sakit yang di rasakan si bayi ketika proses penindikan itu di tolerir oleh syariat dan memang kenyataan rasa sakit ini tergolong ringan dan cepat sembuh.

Ke empat ketika dewasa kelak akan menimbulakn kemanfaat bagi wanita sebab ketika menikah dengan tindian yang di pasangi anting bisa sebagai penghias untuk menyenangkan hati suaminya.

Dari keempat di atas ini tidak di temukan pada bayi laki-laki sehingga hukumnya tidak di perbolehkan bahkan haram secara mutlak.

Dari uraian tadi bisa di ambil kesimpulan bahwa pnindian bayi perempuan di perbolehkan bahkan di ajurkan oleh Syara’ selain berpijak pada hadist juga melihat kemaslahatan yang di timbulkan, sedangkan hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas yang di kutip oleh Ibnu hajar Al-Haitami di sunnahkan.

Demikianlah artikel ini semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis, pembaca dan pengunjung web yang baik hati . aminn..

Tag : Islam
0 Komentar untuk "Hukum Dan Hikmah Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama"

Back To Top