Media Informasi Islam Terkini

Hukum Memperbaharui Wudhu Menurut Hukum Syar’i

Hukum Memperbaharui Wudhu Menurut Hukum Syar’i

Tajdidul Wudlu yaitu memperbaharui atau mengambil wudlu walaupun wudlu yang pertama masih sah contoh Mursyid mengambil wudlu untuk menunaikan ibadah shalat fardu atau Sunnah setelah melakukan ibadah fardu atau Sunnah mursyid menganbil wudlu lagi, walaupun masih memiliki wudlu. inilah namanya Tajdidul Wudlu atau memperbaharui wudlu’.

Mursyid yang hendak tajdidul wudlu (memperbaharui wudlu), harus mengetahui kapan tajdidul wudlu itu di sunnahkan.

Lalu kapan tajdidul wudlu itu di sunnahkan dan bagaimana jika mursyid mengambil wudlu sedangkan wudlu yang pertama belum di gunakan untuk melakukan ibadah Sunnah atau fardu.

*di artikel kali ini akan membahas satu pendapat saja, walaupun sebenarnya ada lima pendapat. Yang ada, pendapat yang di pilih yakni pendapat  yang Ashoh.

Seseorang yang menghendaki tajdidul wudlu lalu mengnginkan pahala kesunnahan dari tajdidul wudlu sendiri yakni wudlu yang pertama harus di gunakan untuk melakukan ibadah Sunnah atau wajib, jika tidak di gunakan untuk melakukan ibadah Sunnah atau wajib, lalu mengambil wudlu lagi, maka menurut Imam Ibnu hajar hukumnya haram. Sedangkan menurut imam Ar-Ramli di hukumi makruh.

#landasan Hukum Fikih

*Menurut pendapat yang Ashoh setelah seseorang melakukan shalat Sunnah atau wajib dengan menggunakan wudlu yang pertama. Kedua setelah melakukan shalat fardu saja. Ketiga setelah melakukan perkara yang mewajibkan wudlu seperti shalat, membaca al-qur’an dan tawaf.

*Disunnahkannya tajdidul wudlu apabila tajdisul wudlu itu tidak bertentangan dengan keutamaan shalat di awal waktu atau terputus dari takbiratul ihromnya imam atau shalat sendirian.

*Di sunnahkan tajdidul wudlu bagi orang yang sehat setelah melaksanakan shalat sekalipun shalat Sunnah, dan jika belum melaksanakan shalat, maka hukumnya haram menurut Imam Ibnu Hajar dan di hukumi makruh oleh Imam Ar-Ramli.

*Wudlu dan Sahat di wajibkan saat nabi Muhammad Di Mi’rajkan oleh Allah Swt, sebagaimana dalam hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Majah. Wudlu di wajibkan bagi seseorang yang berhadast serta ingin melakukan kewajiban seperti shalat atau mebaca al-qur’an. Hukumnya di sunnahkan bagi orang yang menghendaki tajdidul wudlu jika ia telah melaksanakan ibadah Sunnah atau wajib dengan menggunakan wudlu yang pertama dan di sunnhakan pula untuk terus menerus memiliki wudlu contoh Zaid melakukan wudlu setelah wudlu yang pertama batal, maka si zaid melakukan wudlu lagi..terus-menerus mempunyai wudlu ini sangat di sunnahkan..

Keutamaan Tajdidul Wudlu

Ini kisah saat nabi Muhammad saat di Mi’rojkan lalu beliau berkunjung ke surge saat itu beliau mendengar sandalnya sahabat Bilal Bin Rabbah.

Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua raka’at sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua raka’at setelah itu". Dari hadist ini dapat di fahami bahwa melanggengkan wudlu bisa di masukkan ke surga.

 “Sejatinya ummatku pada Hari Kiamat akan datang dalam kondisi wajah, ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka (menjaga) wudhu semasa hidup di dunia".

Ini dapat di fahami ketika seseorang selalu melanggengkan wudlunya, maka kelak di akherat nanti semua anggota basuhan wudlu akan memancarkan cahaya yang sangat terang mengalahkan terangnya rembulan.

Demikianlah web MURSYID HASAN menginformasikan seputar hukumnya tajdidul wudlu beserta faidah melanggengkan wudlu, semoga selalu bermanfaat untuk kita semua. Amin…

Refrensi Kitab: Bughyatul Mustarsyidin Hal 39
                       As-Syarqowi ‘Ala Tahrir Juz 1 Hal 44
                       Kitabul Itsmadul Ainayni Fii Ba’dli Ikhtilafi As-Syakhoni Hal 11
                       Nihayatul Zain Hal 13




Tag : Islam
0 Komentar untuk "Hukum Memperbaharui Wudhu Menurut Hukum Syar’i"

Back To Top