Media Informasi Islam Terkini

Syeikhona Kholil Al-Bangkalani Al-Manduri “Bapaknya Para Ulama’ Jawa”

Syeikhona Kholil Al-Bangkalani Al-Manduri “Bapaknya Para Ulama’ Jawa”

Siapa yang tidak kenal dengan Mbah Syaikhona Kholil bangkalan beliau termsuk ulama jawa yang pertama kali membawa ilmu Al-fiyah, juga beliau termasuk salah satu ulama pemegang Mursyid Tharikah Nagsabandiyaah, menueurt salah satu kyai pada saat itu kemursydan Imam Kholil Al-Bangkalani sangat tinggi, suatu waktu saat beliau menghadiri suatu majlis, lampu di matikan semua ruang itu di penuhi dengan warna hijau, sinar yang timbul dari Mbah Kyai Kholil Bangkalan. Sudah kenal bukan sosok aneh semasa kecilnya menjadi ulama’ terkemuka di tanah jawa.

Imam Kholil AlBangkalani Al-Manduri di lahirkan pada Hari Selasa tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H. Putra pertama KH Abdul Lathif. Kh Abdul Latif merupakan  seorang Kyai di Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan,.

Saat mengetahui istrinya melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki yang sehat, Kyai Abd Latif mengadzani telinga kanan dan mengiqamati telinga kiri Pada sang  bayi Kyai Abdul Latih merasakan kegembiraan yang teramat sangat, setelah beberapa hari beliau memberi nama kepada putra pertamanya dengan nama Muhammad Kholil, yang kelak akan terkenal dengan nama Syaikhona Kholil Bangkalan. Setelh di Iqomahi Abdul Lathif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi pemimpin umat, sebagaimana nenek moyangnya. Kyai Abdul Lathif memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya..

Masa-Masa kecil Kyai Kholil Bangkalan

Saat beliau masih kecil, beliau telah menampakkan sikap-sikap yang tidak di miliki oleh anak kecil pada umumnya, bahkan oleh kakak perempuan tirinya beliau di anggap aneh, sebab beliau melakukan hal-hal yang tidak pernah di jangkau oleh akal manusia, inilah bukti bahwa kelak anak kecil ini akan menjadi ulama besar di indonesia, serta memliki beberapa santri yang kemampuannya tidak di ragukan lagi.

Imam Kholil Kecil sewaktu masih kecil di titipkan oleh ayahnya kepada kakak tirinya, kakak perempuan tirinya ini telah menikah, jadi tidak memberatkan saat mengurus mendidik Imam Kholil kecil. 

Semenjak Imam Kholil kecil di titipkan kepada kakak tirinya Ayahnya Imam Kholil yakni Kyai Abdul Latif tidak pernah mengunjungi beliau sampai Imam Kholil tumbuh remaja

Awal Mula Imam Kholil Mencari Ilmu

Nyai maryam kakak perempuan tirinya imam Kholil dengan suaminya Kyai Kffal dengan ikhlas mendidik, merawat Imam Kholil kecil, semenjak berada di rumahnya Nyai Maryam memberi pelajaran dasar tentang membaca al-qur’an yang benar serta ilmu-ilmu agama. Kerena tingkah Imam Kholil kecil tidak berubah dari keanehannya, Nyai Maryam sangat khawatir dengan perkembangan Imam Kholil, setelah bermusyawarah dengan suaminya KH Kaffal, Nyai Maryam memutuskan untuk memasukkan Imam Kholil ke pesantren Gersik yang di asuh oleh Imam Sholeh. Ini beberapa 

Pesantren Yang pernah di singgahi oleh Imam Kholil 

a. Syekh Ali Al-Mishri guru beliau saat di Makkah.
b. Syekh Umar As-Sami3 Guru beliu saat di Makkah
c. Syekh Khalid Al-Azhari Guru Beliau saat di Makka
d. Syekh Al-Aththar
e. Syekh Abun-Naja Syek Ali Ar-Rahbini

Pesan Bagi Penuntut Ilmu

Kecerdasan otak tidak bisa menembus sesuatu yang tidak di ketahui yaitu ilmu, kecuali melakukan hal-hal kebaikan saat menuntut ilmu, ada emapt hal yang paling urgen untuk di bahas yakni:

a. mencari ilmu itu harus Ikhlas karena Allah SWT. tidak peduli dengan pahitnya kehidupan saat itu, karena yang beliau pentingkan adalah ilmu, dengan harapan Allah ridha dengan ilmu yang beliau dapat. Beliau dapat membuktikan keikhlasan itu ketika Allah SWT menguji beliau dengan hidup yang serba kekurangan.

b. Harus punya cinta terhadap guru dan kitab dan juga  hormat dan patuh kepada guru. Apapun beliau berikan kepada guru, untuk membantu dan membuat guru ridha. Jangan sampai menggangu atau melukai hati sang guru sekecil apapun itu.

c. Setelah ilmu di dapat dengan baik maka harus di hiasi dengan Akhlaq yang tinggi kepada Allah SWT.  

Setelah beliau merasa sudah lumayan cukup menmba beliau di kota Makkah, lalu beliau memutuskan untuk kembali ketanah kelahirannya di bangkalan Madura, untuk mengabdikan ilmunya ke masyarakat jawa pada umumnya.

Dengan keistiqomahan dan pengaaran yang sangat ketat terhadap santri-santri, jai tidak mengherankan kalau beliau Imam Kholil Bangkalan memiliki beberapa santri yang ke’alimannya tidak di ragukan lagi serta santri-santri ini kelak menjadi seorang ulama, memangku pesantren dan juga pencetus Nahdlatul Ulama yang kita kenal dengan NU.

Santri-Santri Imam Kholil Al-Bangkalani 

a. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.”
b. KH. Raden Fakih Maskumambang: Gresik 
c. KH. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah,Situbondo.
d. KH. Abdul Hadi : Lamongan. 
e. KH. Zainudin : Nganjuk  
f. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. 
g. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang 
h. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura 
i. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren  Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep. 
j. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. 
k. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Jombang. 
l. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah 
m. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau 
n. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember. 
o. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. 
p. KH. Zaini Mun’im: Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. 
q. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. 
r. KH. Abdullah Mubarok: Pendiri, Pengasuh Pondok 
s. KH. Asy’ari: Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.  
t. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan. 
u. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan 
v. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep. 
w. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso. 
x. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
y. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. 
z. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo. 
aa. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. 
bb. KH. Maksum : Lasem 
cc. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung 
dd. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo. 
ee. KH. Munajad : Kertosono 
ff. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang 
gg. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi 
hh. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura. 
ii. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso 
jj. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat 

Istri-Istri Syeikhona Kholil Bangkalan

Ada sembilan wanita yang tercatat sebagai istri Syekh Kholil, beberapa diantara mereka beliau nikahi setelah beberapa istri sebelumnya meninggal dunia. Hal itu sangatlan wajar, karena Syekh Kholil itu berumur panjang, bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau berumur lebih dari seratus tahun, maka beliaupun beberapa kali kedahuluan meninggal oleh istri dan beberapa kali menikah lagi. Itulah sebabnya Syekhona Kholil Bangkalan memiliki istri yang banyak.Mereka adalah:

a. Nyai Raden Ayu Assek binti Ludrapati.
b. Nyai Ummu Rahma.
c. Nyai Raden Ayu Arbi’ah.
d. Nyai Kuttab.
e. Nyai Raden Ayu Nur Jati.
f. Nyai Mesi.
g. Nyai Sailah.

Dari sembilan istri itu, hanya empat orang yang menurunkan keturunan Syekh Kholil. Mereka adalah: Nyai Assek, Nyai Ummu Rahmah, Nyai Arbi’ah dan Nyai Mesi.

Putra-Putri Syekh Kholil Bangkalan

a. Ahmad 
b. Nyai Khotimah.
c. KH. M. Hasan.
d. Nyai Rahma.
e. KH. Imron.
f. KH.Badawi.
g. Nyai Asma’

Ulama panutan yang di sengani oleh santri dan masyarakat di pulang jawa ini khusuanya telah sukses melewati rintangan dalam mencari ilmu dan mengajarkan ilmu-ilmunya terhadap santri-santrinya.

Dalam Usia kurang lebih 110 tahun Allah memanggil hambanya yang soleh Syekh Kholil pada hari kamis tanggal 29 Ramadhan 1343 H (1925 M) jam 04 pagi. Jenazah beliau dishalati di Masjid Agung Bangkalan pada sore harinya setelah shalat ashar, kemudian dimakamkan di Pemakaman Martajasah, Bangkalan, kabupaten Madura.

Semoga dengan adanya kisah dari Ulama terkenal Syaikhona Kholil Bangkalan kita lebih semangat lagi dalam mencari ilmu dan mengajarkan ilmu serta terus mendapatkan tetesan barakah dari beliau, semoga bermanfaat.

Tag : profil ulama
0 Komentar untuk "Syeikhona Kholil Al-Bangkalani Al-Manduri “Bapaknya Para Ulama’ Jawa”"

Back To Top