Media Informasi Islam Terkini

Profil Raden Ronggo Warsito “Sang Pujangga Tanah Jawa”

Profil Raden Ronggo Warsito “Sang Pujangga Tanah Jawa”

Nah. Gimana sahabat dengan artikel-artikel yang saya posting sebelumnya menarik bukan, untuk kali ini membahasannya  tidak jauh beda dengan postingan-postingan  sebelumnya, Namun, untuk artikel kali ini lebih menarik, sebab yang di bahas mengenai ulama  pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.

Sebut saja bagus Burhan yang lebih popular dengan panggilan Ronggo Warsito. Nama kecil beliau adalah bagus Burhan beliau di lahirkan di kota Surakarta ,jawa tengah pada tahun 1728, sejak kecil beliau termasuk bocah yang sangat nakal, bandel, suka main judi, bahkan dalam memahami mata pelajaran beliau sangat jauh di bawah bocah-bocah seangkatan dengannya, di samping itu beliau terkenal di ponorogo memiliki karakter yang buruk berupa suka sekali bermain judi.

Bagus Warsito merupakan putra dari  Mas Pajangswara  beliau termasuk cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta. Sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak. Sejak kecil Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya pelayan ayah beliau. Karena tabiat yang buruk beliau semakin menjadi-jadi, oleh kakek beliau yakni Ki Sastronagoro di kirim ke Pesantren Gebang Tinatar di ponorogo yang di asuh oleh Kyai hasan Basri, namun selama proses pembalajaran beliau selalu lambat dan tertinggal jauh dari teman-temannya.

Kurang lebih satu tahun beliau menimba ilmu di pesantren, bekal 500 Real pada waktu itu habis, bahkan dua ekor kuda juga habis terjual. Sedangkan kemajuannnya dalam belajar belum Nampak, Pengasuh Pondok Pesantren Gebang Tinatar  Kyai hasan Basri menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Burhan yang kurang baik itu, sehingga berakibat terhadap pemahaman pelajaran yang kurang baik.

Selama beberapa tahun tinggal di Pondok Pesantren Gebang Tinatar beliau memutuskan untuk lari bersama Ki Tanidjaja menuju ke Mara, disini beliau tinggal di rumah Ki Ngasan, beliau termasuk sepupu dari Tanudjaja, menurut cerita, beliau dari Mara akan menuju ke kota Kediri, untuk mengahadap Bupati Kediri pengeran Adipati Cakraningrat, namun atas petunjuk Ki Ngasan ngali, ahirnya mereka berdua tidak perlu ke kota Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran sag Adipati Cakraningrat di madiun saja, karena adipati hendak mampir kekota madiun dalam rangka menghadap ke kraton Surakarta.

Perkawinan Bagus Burhan (Bagus Warsito)

Usia yang terbilang masih muda 21 tahun, beliau telah melepas masa lajangnya dengan menikahi Raden Ayu Gombak  Pada tanggal 9 November. Setelah beliau menikah, beliau ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri, setelah beliau berbakti kepada mertuanya dan Di sana beliau merasa jenuh dan memutuskan berkelana yang temani oleh Ki Tanudajaj. Konon, Burhan berkelana sampai ke Pulau Bali.

Guru-Guru Bagus Burhan Selama berkelana

a.    Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih
b.    Kyai Ajar Wirakarta Di Ragajambi
c.    Kyai Ajar Sidalaku Di Tabanan Bali

Dalam masa mencari ilmu itu beliau berkesempatan berharga membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari bali dan kediri di Surakarta.

Selama proses mencari ilmu beliau tak lupa menulis beberapa karya di antaranya:

a.    Sri Kresna Barata
b.    Wirid Hidayat Jati
c.    Wirid Ma'lumat Jati
d.    Serat Sabda Jati
e.    Serat Jaka Lodang
f.    Serat Jayengbaya
g.    Serat Kalatidha
h.    Serat PanitisastraBambang Dwihastha : cariyos Ringgit Purwa
i.    Bausastra Kawi atau Kamus Kawi – Jawa, beserta C.F. Winter sr.
j.    Serat Aji Pamasa
k.    Serat Candrarini
l.    Serat Cemporet
m.    Serat Pandji Jayeng Tilam
n.    Serat Paramasastra
o.    Serat Paramayoga
p.    Serat Pawarsakan
q.    Serat Pustaka Raja
r.    Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata, beserta C.F. Winter sr.
s.    Sapta dharma
t.    Suluk Saloka Jiwa
u.    Serat Wedaraga
v.    Serat Witaradya

Cerita menarik yang penting untuk di bahas yakni saat beliau berguru kepada Kyai Hasan Besari Tegal sari, karena pada saat itu beliau memiliki tabiat yang buruk serta tidak mampu menyerap pelajaran dengan baik, ahirnya oleh Pengasuh Pondok Pesantren Gebang Tinatar Kyai hasan Besari beliau di usir, setelah dapat beberapa hari beliau terusir dapi pesantren, mendadak para santri mengalami sakit yang tidak di ketahui penyebabnya, lambat laun beliau Kyai hasan Besari melakukan shalat istikharah meminta petunjuk atas ujian yang di derita oleh santri-satrinya, ahirnya shalat istikharah beliau mendapatkan petunjuk yakni, akibat mengusir Raden RonggoWarsito dari pesantren santri-santri mendadak sakit, tanpa berpikir panjang Kyai Hasan Besari memanggil kemabli Ronggo Warsito.

Setelah kejadian itu, Kayai Hasan Besari dengan teliti dan sabar mengajari ilmu-ilmu agama kepada Raden Ronggo Warsito, dengan kesabarn dan kesungguhan Kyai hasan Besari ahirnya raden Ronggo Warsito (Bagus Burhan) mampu dengan baik menyerap pelajaran demi pelajaran yang di ajarkan kepada beliau. Setelah di rasa cukup ilmu yang belaiu pelajari ahirnya beliau di suruh untuk pulang ke keratin. Kerena pengaruh besar Kyai Hasan Besari beliau raden Ronggo Warsito di angkat menjadi  penasehat kanjeng Sinuwun Dan sebagai pujangga keratin Surakarta.
Ronggo Warsito wafat pada tahun 1873 di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Desember  pada waktu itu beliau umur 71 tahun. Beliau  termasuk seorang pujangga islam terbesar terakhir tanah Jawa. Beliau menulis beberapa karya yang kontroversial dan kematiannya meningalkan seribu misteri yang belum terpecahkan.

Demikian kisah Ronggo Warsito (bagus Burhan) sang Pujangga tanah jawa, semoga kita bisa memetic pelajarn serta mendapat barokah dari beliau. Aminn..


Tag : profil ulama
0 Komentar untuk "Profil Raden Ronggo Warsito “Sang Pujangga Tanah Jawa”"

Back To Top