Media Informasi Islam Terkini

Inilah Hukum Menyegel Barang Dagangan-nya

inilah Hukum Menyegel Barang Dagangan-nya

Postingan ini mungkin terlalu jadul untuk di bahas tapi, dan terlalu biasa dengan premis sederhana dan tidak ada  gregetnya sama sekali. Tapi tidak  apa-apa, walaupun postingan ini terlihat sepele di pendengaran kita setidaknya postingan ini bisa memberi pencerahan dan manfaat  bagi sebagian orang yang suka berkunjung ke took-toko buku tersekat seperti ke gramedia, wilis dan perpustakaan terdekat untuk sekedar lihat-lihat atau membeli buku. 

.Buku yang  tersegel merupakan cara aman bagi pembeli agar barang dagangannya tidak hanya di baca saja, tapi juga membeli, dan hal ini mengurangi angka kerusakan pada barang.

Akhir akhir ini semua yang berlangganan pastinya tahu kalau buku-buku best seller   umumnya.  Buku-buku di jual dalam keadaan di segel dengan bungkus plastik. Ketika ingin membeli, konsumen hanya bisa melihat cover dan sinopsis pada sampul belakang saja. Di satu sisi, tak jarang keadaan seperti ini membuat kecewa konsumen, karena ternyata isi buku tidak sebagus seperti uraian sinopsis dan judulnya. Sedangkan di sisi lain penerbit tidak mau menanggung resiko kerugian dengan membiarkan buku buku yag di jualnya terbuka tak terbungkus. Karena apbila seperti itu tentunya toko buku akan berubah menjadi perpustakaan. Para pengunjung tidak mau membeli buku tersebut, namun hanya membuka buka dan membacanya saja. Dan setelah buku menjadi lusuh dan kusam tentu tidak ada yang mau membelinya. 

Lalu bagaimana tanggapan hukum fikih terkait hal-hal yang demikian para pembeli menyegel atau membungkus barang dagangannya sehingga para pembeli kesulitan untuk membeli barang yang kualitasnya bagus.

*Menurut Qoul azhar tidak sah menyegel barang dagangannya kalau tidak ada penjelasan secara rinci mengenai kualitas dan kecacatan dari penjual atau tidak menyediakan buku yang jenis dan bukunya sama. Kalau penjual menerangkan secara rinci terkait kualitas dalam buku atau menyediakan buku yang sama dengan buku yang tersegel tadi, maka hukumnya boleh. Namun tetap bagi sang pembeli memiliki hak khiyar Ru’yah.

Khiyar Ru’yah merupakan hak pilih yang di miliki oleh pembeli dalam akad Bai’ al-ghaib antara melangsungkan akad jual belinya atau menggagalkan akad jual belinya setelah melihat barang yang di perjual belikan secara sempurna.

Kalau akad jual belinya tersebut menafikan (tidak mengadakan khiyar) maka hukum jual belinya batal. Demikian penjelasan singkat ini semoga bermanfaat untuk kita semua.Aminnn

Refrensi Kitab: Nihayatul Muhtaj "ila Sryarhil Minhaj Juz 3 Hal 315
                            Majmu' Syarh Muhadzab Juz 9 Hal 353


Tag : Islam
0 Komentar untuk "Inilah Hukum Menyegel Barang Dagangan-nya"

Back To Top