Media Informasi Islam Terkini

Biografi Mbah Saleh Darat “Sang Penyebar Tulisan Jawa Pegon”

Biografi Mbah Saleh Darat “Sang Penyebar Tulisan Jawa Pegon”

Lahir seorang ulama’ semasa dengan Imam Nawawi Al-Banteni dan Imam Kholil Al-Bangkalani Al-Maduri beliau bernama lengkap Muhammad Bin Saleh Umar As-Samarani, kelahiran beliau di desa  ngroto kecamatan mayong kabupaten jepara,. kedung cumplung itu adalah julukan suatu daerah di desa ngroto, pada tahun 1235 H. beliau termasuk ulama yang memiliki Ketinggian ilmu agama, ketinggian ilmu beliau tidak hanya dilihat dari karya-karyanya yang mengagumkan , tapi juga dari keberhasilan murid-muridnya yang telah menjadi ulama-ulama besar di Jawa, bisa juga kamapanan ilmu beliau  bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia hijrah di sana. Syeikh Muhammad Bin Umar dinobatkan sebagai salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut.

Kyai Umar adalah ayah dari Muhammad saleh, pendidikan beliau di mulai dari ayahnya sendiri, sebab ayah beliau termasuk seorang kyai serta beliau termasuk pejuang islam yang pernah ikut bergabung dengan pasukan Pengeran Diponegoro. Ilmu-ilmu yang di ajarkan kepada Muhammad Saleh merupakan ilmu-ilmu dasar agama, seperti  belajar al-qur’an, nahwu dasar dan sharaf.

Setelah di rasa cukup mempelajari ilmu dasar agama islam beliau melanjutkan belajarnya kepada Kyai haji Sahid, beliau termasuk ulama’ besar dari Waturoyo, pati, jawa tengah. Sesudah itu beliau berpindah untuk mencari ilmu kepada Kyai H. Muhammad Salah Asnawi kudus, setelah berlanjut kepada Kyai H. Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi banguni beliau termasuk Mufti Kota Semarang, KH Ahmad bafaquh Ba’alawi Dan KH Abdul Ghani, inilah para guru-guru beliau dalam menuntut ilmu, jadi tidak mengherankan kalau beliau menjadi ulama besar serta tidak di ragukan lagi keilmuannya.

Kyai Umar sangat berharap kelak anaknya menjadi ulama’ yang berpengaruh besar, baik di masyarakat sekitar atau di penjuru dunia islam. Dan terbukti berkat kesabaran dalam mendoakan anak tercintanya, serta sang anak yang semangat membara demi menuntut ilmu agama. Setelah beliau selesai menuntut ilmu di tanah jawa , ayah beliau mengajak sang anak untuk hijrah menunaikan ibadah haji ke Baitullah, sekaligus menetap sementara di tanah haram intuk mendalami suatu ilmu agama kepada beberapa Syeikh Muhammad Al-Mukri, Syeikh Muhammad Bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki, Sayyid Ahmad Bin Zaini, Syeikh Ahmad Nahrawi, Sayyid Muhammad Saleh Bin Sayyid Abdurrahman Az-Zawawi, Syeikh Yusuf Al-Misri.

Setelah ilmu yang beliau kuasa sudah mentereng barulah beliau di izinkan untuk mengajarkan ilmu-ilmunya yang beliau dapat sewaktu belajar kepada para guru-gurunya, banyak sekali santri-santri beliau dari tanah jawa, setelah beliau menetap lama di tanah jawa, beliau memutuskan untuk pulang ketanah jawa tepatnya di Semarang,,beliau ingin sekali mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu kepada masyarakat Indonesia khususnya.

Setelah beliau menetap di Indonesia beliau memutuskan untuk membangun sebuah pusat pendidikan berupa Pesantren, beliau mendirikan Pesantren di sekitar pesisir kota Semarang, sejak saat itu beliau lebih terkenal dengan sebutan Mbah Saleh Darat, sebab karena ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa.  semakin bertambahnya tahun pesantern beliau yang beliau rintis semakin berkibar dengan megahnya di seantero Tanah Jawa tengah.

Santri-Santri Mbah Kyai Saleh Darat

a.    KH. Hasyim Asy’ari
b.    KH. Ahmad Dahlan
c.    Kiai R. Dahlan Tremas
d.    Kiai Amir Pekalongan
e.    Kiai Idris  Solo
f.    Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang
g.    Ra Ajeng Kartini
h.    KH Bisri Samsuri
i.    Syekh Mahfus At-Turmudzi

Pernikahan Muhammad Bin Saleh yang pertama ketika beliau  masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. 

Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.

Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. 

Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah.

Karya-Karya Mbah Saleh Darat

1.    Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam.
2.    Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali.
3.    Al-Hikam karya Ahmad bin Athailah
4.     Lathaif al-Thaharah.
5.    Manasik al-Haj.
6.    Pasolatan.
7.    Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani.
8.    Minhaj al-Atkiya’.
9.    Al-Mursyid al-Wajiz
10.    Hadits al-Mi’raj
11.    Syarh Maulid al-Burdah
12.    Faidh al-Rahman.
13.    Asnar al-Shalah

Perlu di ketahui sebagian besar karya-karya beliau di tulis dalam Bahasa jawa dan menggunakan jawa pegon, hanya sebagian kecil saja yang beliau tulis kedalam bahas arab, dan orang yang paling berpengaruh dan paling berjasa menghidupkan tulisan pegon adalah Mbah Saleh darat Semarang.

Ulama besar yang sangat berpengaruh dalam menyebarkan tulisan Jawa Pegon kini beliau telah menghembuskan nafas terkhirnya pada hari jum’at tanggal 29 Ramadlan  atau 18 Desember 1903.

Demikian profil singkat mengenai Mbah Muhammad saleh Bin Umar As-samarani yang terkenal dengan sebutan Mbah darat Semoga bermanfaat dan selalu mendapatkan barakahnya beliau. Aminnn
.


 



Tag : profil ulama
0 Komentar untuk "Biografi Mbah Saleh Darat “Sang Penyebar Tulisan Jawa Pegon”"

Back To Top